Puisi tentang Pasar Tradisional: Galih Kangkung, karya Dian Riasari
Galih Kangkung
Oleh: Dian Riasari
Tutur ibu, pergilah ke pasar
tempat daun-daun pelajaran dipetik dan dijual
Kusibak arus manusia
kuamati bayam
di lapak penjual berjiwa lebam
dianiaya berkilo-kilo duka
Kutimbang sawi
di kios penjual berhati sepi
telah lama jauh dari pemilik bumi
Kupilah selada
di kedai penjual berkalbu jemawa
tak segan menumpuk harta
di atas bungkuk punggung para hamba
Batinku gamang
jumpai carut marut sayur mayur pasar
lalu ibu berpesan, “Golekana galihe kangkung.”
Ya, Bu
aku tak akan beli sayur ego
hanya seikat kangkung bergalih sunyi
kita masak di perapian doa
menjadi nutrisi suci
bagi sukma yang tengah buta.
Malang, Maret 2026
Golekana galihe kangkung (pepatah Jawa) = carilah galih/inti kangkung.
Dian Riasari, lahir dan berdomisili di Kota Malang, Jawa Timur. Berkontribusi pada 40-an buku antologi (cerpen, cerita inspiratif, cerita anak, dongeng, artikel, dan puisi) serta satu buku solo.
Beberapa karya puisinya dimuat di media online dan cetak, seperti: Harian Bhirawa, Tiras Times, Bambang Kariyawan.com, Ngewiyak, Riau Sastra, Negeri Kertas, Jurnal Tinta, Dermaga Sastra, Kabaran.id, Ranah Riau, Laman Riau, Jurnal Puisi Cinta. Bergabung di komunitas Alumni Asqa Imagination School (AIS), Community Pena Terbang (COMPETER), dan Ruang Kata. IG: dian_de_lala.


Komentar Via Facebook :