Puisi tentang Tuhan: Muara Jiwa, karya Rini Ahyu
Muara Jiwa
Oleh: Rini Ahyu
Seribu langkah Kau datang melipur,
tanpa pamrih, tanpa jeda yang luntur.
Uluran cinta, kasih tertinggi,
melampaui batas nalar dan nurani.
Kucari Engkau di belantara sepi,
melangkah walau setapak kaki.
Sadar, akhinya mesti kusadari,
alfa dunia telah menggelapkan akli.
Kutemukan Engkau yang penuh cinta,
menyemat nama-Mu di palung dada.
Luruh segala megah yang kupuja,
runtuh singgasana angkuh dalam jiwa.
Kutersungkur di Sayyidul Ayyam-Mu,
tempat mustajab doa berpadu.
Air mata menjadi saksi taubat,
tiap sujud pulihkan arah yang tersesat.
Tak lagi kukejar fatamorgana dunia,
sebab cahaya-Mu, pelita segala.
Dalam hening kupasrahkan seluruh asa,
hingga hanya ridha-Mu, muara jiwa.
Kalbu yang mati, kini merekah sudah,
kepada-Mu, bersimpuh segala pasrah.
Padang Ganting, 3 Juli 2026
Rini Ahyu. Kelahiran Padang Ganting, 22 September 1979. Seorang guru yang menyukai dunia kepenulisan dan mulai serius menulis tahun 2000. Aktif menulis antologi dengan beberapa komunitas kepenulisan seperti FLP, JSDI, ATPUSI dan KPBJ. Karya cerpen yang pernah dimuat media massa yaitu Aku yang Terluka di Bangka Pos.
Kini aktif menulis puisi di kelas puisi Asqa Imagination School (AIS) #70. IG: @riniahyu


Komentar Via Facebook :