Puisi tentang Kehidupan: Bibir Peradaban, karya Asniar Dhuha
Bibir Peradaban
Oleh: Asniar Duha
Angkasa teteskan emas ke bibir peradaban
Sang surya, bola api yang letih
Berlabuh pelan di pelukan dahan yang telanjang
Menjadi sujud cahaya di antara ruang-ruang sunyi
Pohon ini menanggalkan daunnya
Menyisakan tulang-tulang hitam, seperti syair
Yang belum usai ditulis angin
Justru dari ketelanjangan itu
Senja menemukan caranya untuk paling jujur
Di kejauhan, atap-atap bersujud
Kabel menggantungkan resah pada tiang
Bumi menutup matanya perlahan
Sementara langit menggores ayat pamungkas
Dengan kuas jingga dan ungu
Oh petang... guru tersabar
Kau bisikkan bahwa yang retak bisa jadi bingkai
Bahwa kepergian tak selalu luka
Kadang ia hanya cara semesta
Untuk belajar pulang dengan tenang
Sibolga, 18 Agustus 2026
Asniar Duha, lahir di Gunung Sitoli 14 Juni 1976. Menetap di Kota Sibolga Propinsi Sumatera Utara. Tertarik menulis sejak Maret 2019 dan bergabung bersama beberapa komunitas menulis online. Karya perdana dengan judul Fake Love di salah satu platform digital dan telah mendapatkan kontrak.
Novel Cetak Perdana dengan judul "Terpaksa Mencinta" novel cetak kedua “Bunga dalam Kubangan”, buku bografi cetak berjudul “Meniti Buih Melintas Batas”. Selanjutnya penulis aktif dalam komunitas belajar menulis puisi di Asqa Imagination School (AIS) #33 hingga saat ini di AIS#71. Dan hasil karya menulis puisi tersebut sedang dirilis menjadi sebuah buku solo puisi.
Sedangkan karya antologi yang sudah cetak yaitu Merajut Asa dalam Cinta (Cerpen), Mengungkap Ragam Hati Semesta (Cerpen), It's Not To Be OK (Cerpen), Suami Pilihan (Cerpen), Merajut Asa Dalam Cinta (Cerpen), Tinggal Kenangan (Cerpen), Rangkaian Aksara Berbalut Mutiara (Quotes), Magic Words for Self Healing (Quotes), Serenade Segenggam Uban dan Ruh di Bawah Loteng (Puisi), Kurcaci & Langit Cekung Basah (Puisi).
FB: Misis Asniar Duha saja
IG: @ardha_fadhillah


Komentar Via Facebook :