Harga Plastik Meledak, Industri Teriak: Subsidi Disiapkan, Produksi terancam Tersendat

Harga Plastik Meledak, Industri Teriak: Subsidi Disiapkan, Produksi terancam Tersendat

Foto: ist

JAKARTA, RANAHRIAU.COM- Dari kemasan kopi sachet hingga botol air minum, plastik adalah denyut nadi yang tak terlihat. Kini nadinya berdegup tak stabil. Gangguan pasokan global akibat perang mendorong harga melambung, memaksa pemerintah dan pelaku industri bersiap menghadapi skenario terburuk.

Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, mengakui tekanan ada di dua titik paling sensitif: harga dan ketersediaan. Pemerintah tengah meracik opsi intervensi, termasuk subsidi untuk industri kecil dan menengah (IKM) agar tidak ikut terseret dalam pusaran krisis bahan baku.

Dari lapangan, alarm berbunyi lebih keras. Ketua Bidang Ketenagakerjaan Asosiasi Pengusaha Indonesia, Bob Hasan, menyebut harga plastik berpotensi melonjak 60 hingga 70 persen. Efeknya seperti domino: hampir semua produk bersentuhan dengan plastik. Jika bahan baku tersendat, produksi bisa ikut macet. Bahkan, ia memperingatkan aktivitas industri berisiko terganggu serius mulai Mei.

Akar persoalannya jelas: ketergantungan pada bahan baku impor berbasis turunan minyak bumi. Ketika rantai pasok global tersendat, industri dalam negeri ikut terseret. Sektor makanan dan minuman menjadi salah satu yang paling rentan, karena bergantung pada plastik untuk kemasan dan distribusi.

Dari sisi pelaku industri, gambaran situasi bahkan lebih dramatis. Sekretaris Jenderal Inaplas, Fajar Budiono, menyebut pasar plastik kini memasuki fase “ganti harga”, sebuah era di mana label harga berubah lebih cepat daripada mesin produksi berputar.

Data yang ia paparkan tajam: bahan baku plastik yang sebelumnya berada di kisaran USD 1.000 per metrik ton kini melonjak hingga USD 1.800 lonjakan hampir 80 persen. Dampaknya, harga produk plastik ikut terdorong naik 40 hingga 80 persen, termasuk kemasan yang menjadi tulang punggung pelaku UMKM.

Alternatif pasokan memang ada, salah satunya dari Amerika Serikat. Namun jalan ini bukan tanpa ongkos. Waktu pengiriman lebih panjang, biaya logistik lebih mahal, sebuah pilihan antara mahal sekarang atau langka nanti.

Industri plastik kini berdiri di persimpangan yang sempit: antara menjaga roda produksi tetap berputar atau terseret oleh gelombang harga yang makin liar. Jika intervensi tak segera konkret, krisis ini bisa merambat lebih jauh dari pabrik ke pasar, dari produsen ke konsumen. Dan pada akhirnya, yang ikut membayar bukan hanya industri, tapi seluruh lapisan masyarakat.

Editor : RRMedia
Komentar Via Facebook :