Usholli tanpa Ushuli: Ibadah atau Sekedar Ritual Kosong?
RANAHRIAU.COM- Di banyak sudut negeri ini, suara “usholli…” menggema sebelum takbir. Lantang, fasih, bahkan nyaris seragam. Tapi di balik itu, muncul satu pertanyaan yang jarang berani diajukan: apakah yang dilafalkan itu lahir dari pemahaman, atau sekadar kebiasaan turun-temurun tanpa fondasi?
Di sinilah ironi itu bermula.
Kita hidup di zaman di mana simbol sering menang telak atas substansi. Lafaz niat dihafal sejak kecil, diulang tanpa jeda, seolah menjadi syarat sah ibadah. Padahal, dalam khazanah keilmuan Islam, para ulama telah lama menegaskan bahwa niat itu letaknya di hati, bukan di lidah. Lisan hanya pelengkap, bukan penentu.
Namun realitas di lapangan berkata lain. Banyak yang merasa belum “resmi” salatnya jika belum melafalkan usholli. Lebih ironis lagi, sebagian tidak pernah benar-benar memahami makna dari apa yang diucapkannya. Ia menjadi mantra, bukan kesadaran.
Di titik ini, kita perlu jujur: ketika “usholli” lebih diutamakan daripada “ushuli”, maka ibadah berpotensi kehilangan ruhnya.
“Ushuli” berbicara tentang dasar. Tentang mengapa kita salat, kepada siapa kita menghadap, dan apa makna dari setiap gerakan. Ia adalah fondasi yang seharusnya menopang seluruh bangunan ibadah. Tanpa itu, salat hanya menjadi gerakan mekanis, rapi, tertib, tapi kosong dari kedalaman.
Lebih jauh lagi, fenomena ini mencerminkan krisis yang lebih besar: krisis pemahaman dalam beragama. Banyak yang tekun beribadah, tapi minim refleksi. Rajin menjalankan, tapi jarang mempertanyakan makna. Akhirnya, agama dijalani sebagai rutinitas, bukan kesadaran. Ini bukan soal benar atau salah dalam melafalkan niat. Ini soal prioritas.
Apakah kita lebih sibuk memperindah ucapan, atau memperdalam pemahaman?
Sebab sejarah telah mengajarkan, runtuhnya kualitas umat bukan karena mereka berhenti beribadah, tetapi karena mereka kehilangan esensi dari ibadah itu sendiri.
Jika “usholli” terus digaungkan tanpa diiringi “ushuli”, maka yang lahir adalah generasi yang fasih secara ritual, tapi rapuh secara intelektual dan spiritual. Sudah saatnya kita membalik arah.
Mengembalikan ibadah ke akarnya. Menanamkan kembali pemahaman sebelum praktik. Menghidupkan kesadaran sebelum rutinitas. Karena pada akhirnya, yang dinilai bukan seberapa keras kita melafalkan niat, tetapi seberapa dalam kita memahami dan menghadirkan hati dalam setiap sujud. Dan mungkin, dari situlah ibadah benar-benar menemukan maknanya.
Penulis : Abdul Hafidz AR, S.IP. Pimred ranahriau.com


Komentar Via Facebook :