Radikal Itu Sehat, yang Sakit justru Nalar Kita

Radikal Itu Sehat, yang Sakit justru Nalar Kita

Foto: Ist

RANAHRIAU.COM- Hari ini, kata “radikal” lebih cepat divonis daripada dipahami. Begitu ada yang bicara soal ketimpangan, oligarki, atau perubahan sistem, alarm bahaya langsung dinyalakan. Seolah-olah berpikir sampai ke akar masalah adalah ancaman bagi negara. Ironisnya, yang lebih mengancam justru kemalasan berpikir yang kita rawat bersama.

Radikal berasal dari kata radix yang punya arti akar: sederhana: mendasar, prinsipil, tidak puas pada tambal sulam. Tapi di ruang publik kita, radikal direduksi menjadi sinonim teror, kekerasan, dan ekstremisme agama. Penyempitan makna ini bukan sekadar keliru; ia adalah bentuk kemunduran intelektual.

Tanpa pikiran radikal, tak ada sains. Tanpa keberanian menggugat, tak ada kemerdekaan. Para pendiri bangsa bukan tipe orang yang “aman-aman saja”. Mereka radikal dalam membaca kolonialisme sebagai sistem penindasan yang harus dicabut dari akarnya. Bayangkan jika dulu mereka diminta bersikap “moderat” terhadap penjajahan.

Masalahnya bukan pada radikal, melainkan pada fanatisme yang menyamar sebagai radikalisme. Di sini, slogan lebih laku daripada argumen. Klaim “paling benar” lebih nyaring daripada dialog. Agama direduksi menjadi teriakan identitas, bukan refleksi etis. Padahal fanatisme bukan tanda iman kuat, melainkan tanda rapuhnya nalar.

Sejarah sudah memberi pelajaran mahal. Kelompok Khawarij dalam sejarah Islam merasa paling suci, paling setia pada hukum Tuhan dan akhirnya menumpahkan darah atas nama kebenaran. Fanatisme selalu lahir dari kepastian yang tak mau diuji.

Kita terlalu sering keliru: yang kritis disebut radikal, yang fanatik disebut saleh. Yang menggugat ketidakadilan dicurigai, yang gemar menghakimi dibiarkan. Ini bukan kewaspadaan, ini paranoia intelektual.

Masyarakat demokratis justru membutuhkan warga yang berani berpikir radikal dalam arti berpikir sampai ke akar persoalan, namun tetap rendah hati dan terbuka. Yang harus ditolak bukan keberanian berpikir, melainkan keberanian mengkafirkan.

Radikal itu sehat. Yang berbahaya adalah fanatisme yang membungkam akal sehat dan merasa suci sendirian. Jika semua gagasan mendasar terus dicurigai, mungkin bukan pikirannya yang ekstrim mungkin kita saja yang terlalu nyaman hidup di permukaan.

 

Penulis: Abdul Hafidz AR, S.IP,  Humas Majelis Tabligh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Riau, Kordinator Humas Pemuda Muhammadiyah Wilayah Riau. 

Editor : RRMedia
Komentar Via Facebook :