Catatan Redaksi: Groundbreaking bukan Jaminan Proyek Jalan

Catatan Redaksi: Groundbreaking bukan Jaminan Proyek Jalan

Foto: Ist

RANAHRIAU.COM- Publik perlu memahami makna istilah groundbreaking atau peletakan batu pertama dalam sebuah proyek pembangunan. Pada dasarnya, groundbreaking adalah simbol dimulainya sebuah rencana lebih tepatnya, perwujudan janji awal bahwa suatu proyek akan dikerjakan. Ia belum tentu menandai pekerjaan fisik yang benar-benar berjalan, apalagi menjamin proyek tersebut akan selesai.

Dalam praktiknya, momen groundbreaking kerap dikemas secara seremonial dan disiarkan luas oleh pemilik atau penggagas proyek. Tujuannya jelas: membangun optimisme publik, menarik perhatian investor, dan memberi sinyal bahwa proyek berada di jalur yang benar. Namun antara seremoni dan realisasi, jaraknya sering kali jauh.

Karena itu, ketika Badan Pengelola Investasi Danantara mengklaim telah melakukan groundbreaking proyek dimetil eter (DME), sementara PT Bukit Asam Tbk (PTBA) sebagai pelaksana belum mengetahui siapa mitra teknologinya, situasi tersebut sesungguhnya bukan hal yang aneh.

PTBA adalah perusahaan tambang batu bara. Untuk menggarap proyek DME yang berbasis rekayasa industri dan teknologi konversi batu bara menjadi gas PTBA memang membutuhkan mitra strategis yang memiliki penguasaan teknologi. Ketidakjelasan mitra pada tahap groundbreaking justru mencerminkan bahwa proyek tersebut masih berada pada fase awal perencanaan, bukan tahap eksekusi matang.

Sejarah pembangunan di Indonesia juga mencatat banyak proyek yang telah melalui seremoni groundbreaking, namun kemudian mandek, tertunda, bahkan senyap tanpa kejelasan. Fenomena ini bukan anomali, melainkan kenyataan yang berulang.

Karena itu, publik sebaiknya bersikap proporsional. Groundbreaking layak dicatat sebagai niat dan rencana, tetapi belum pantas dirayakan sebagai keberhasilan. Ukuran sesungguhnya dari sebuah proyek bukan terletak pada batu pertama yang diletakkan, melainkan pada kepastian pendanaan, kejelasan mitra, kesiapan teknologi, dan keberlanjutan pelaksanaannya.

Optimisme boleh dijaga, tetapi kewaspadaan tetap perlu. Sebab dalam pembangunan, yang dibutuhkan bukan sekadar seremoni melainkan konsistensi hingga janji benar-benar menjadi kenyataan.

Editor : RRMedia
Komentar Via Facebook :