Catatan Redaksi

Aklamasi Yulisman, Ketika Golkar Riau Menang tanpa Pertarungan

Aklamasi Yulisman, Ketika Golkar Riau Menang tanpa Pertarungan

Foto: Ist

PEKANBARU, RANAHRIAU.COM- Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Riau akhirnya berlabuh dengan satu nama yang sejak awal sudah disebut-sebut: Yulisman. Tanpa riuh, tanpa kompetisi, Musda kali ini berakhir dengan satu kata yang sering jadi pembenaran politik: aklamasi.

Namun di balik ketenangan itu, ada pertanyaan besar yang tak boleh diabaikan: apakah aklamasi ini benar-benar simbol kebersamaan, atau hanya hasil penyeragaman arah dari pusat partai?

Demokrasi Internal: Hidup dalam Narasi, Mati dalam Praktik

Golkar dikenal punya tradisi politik yang panjang, tapi setiap kali Musda berjalan “sepi lawan”, publik justru makin apatis. Di Riau, dinamika menjelang Musda sempat panas — mulai dari perubahan surat mandat hingga tarik menarik restu politik dari DPP. Tapi pada akhirnya, semua reda begitu saja.
Diam-diam, suara yang berbeda tenggelam oleh satu kata sakti: setuju.

Kemenangan aklamasi ini tentu tampak rapi. Tapi rapi bukan berarti demokratis. Karena demokrasi sejati menuntut ruang debat, adu gagasan, dan keberanian untuk berbeda pendapat.

Yulisman: Ketua Tanpa Rival, Tapi Tak Boleh Tanpa Arah

Sebagai figur senior, Yulisman punya pengalaman dan jejaring kuat di legislatif. Tapi Golkar Riau kini menghadapi realitas baru: kelelahan kader, menurunnya militansi, dan menghilangnya regenerasi politik.
Kemenangan tanpa rival bukanlah jaminan stabilitas. Sebaliknya, ia bisa menjadi beban karena legitimasi sejati baru lahir ketika seorang pemimpin diuji oleh perbedaan, bukan diangkat oleh keseragaman.

Restu Pusat: Bayangan Kuning dari Jakarta

Sulit menafikan aroma restu pusat dalam setiap Musda Golkar. Dari proses hingga hasil, semua seolah telah diatur garisnya dari atas. Bagi sebagian kader, ini dianggap bagian dari disiplin organisasi. Tapi bagi publik, inilah wajah politik lama yang terus berulang: partai besar yang tak lagi membuka ruang bagi kader-kader berani di daerah.

Harmoni Tak Selalu Demokrasi

Aklamasi memang terdengar indah, tapi sering kali di balik harmoni, tersembunyi kesunyian politik.
Kini bola ada di tangan Yulisman: apakah ia akan memimpin Golkar Riau dengan semangat keterbukaan, atau sekadar melanjutkan pola lama yang nyaman bagi elite, tapi mematikan gairah kader di bawah.

Golkar Riau boleh bangga telah melaksanakan Musda dengan tertib. Tapi di luar ruang sidang, rakyat bertanya dalam hati: kalau tak ada lawan, apa masih bisa disebut kemenangan?

Editor : RRMedia
Komentar Via Facebook :