Sehari Jelang Musda Golkar Riau: Intrik, Manuver dan tarik Menarik Restu dari Jakarta

Sehari Jelang Musda Golkar Riau: Intrik, Manuver dan tarik Menarik Restu dari Jakarta

Foto: Ist

PEKANBARU, RANAHRIAU.COM- Aroma panas mulai menyeruak dari balik dinding Hotel tempat Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Riau akan digelar.

Sehari menjelang penentuan pucuk pimpinan partai berlambang pohon beringin ini, suhu politik melonjak tajam — bukan hanya karena ambisi kader daerah, tapi juga karena “hembusan angin restu” dari Jakarta yang mulai menimbulkan badai kecil di Pekanbaru.

Di permukaan, segalanya tampak damai: baliho bertuliskan “Solid, Tumbuh, Menang” berjajar di sepanjang jalan. Namun di balik layar, intrik mulai menari.

Ada yang bermain lembut lewat lobi dan kompromi, ada pula yang menghunus pisau politik di bawah meja. Sumber internal Golkar menyebut, hingga Kamis malam, daftar dukungan masih cair — sebagian kader bahkan disebut menerima “telepon larut malam” dari para penghubung DPP.

"Siapa yang disukai Jakarta, itu yang akan menang. Tapi ingat, ini Riau. Bukan semua perintah bisa dijalankan begitu saja,” ujar seorang pengurus tingkat kabupaten yang minta identitasnya disamarkan.

Perebutan kursi Ketua DPD Golkar Riau tahun ini bukan sekadar soal jabatan. Ini adalah pertarungan pengaruh, bisnis politik, dan akses kekuasaan.

Siapa pun yang terpilih, dialah yang akan menjadi pintu masuk dalam mengatur arah dukungan Golkar pada Pilkada 2029. Dan di Riau, pintu itu bukan sekadar simbol — ia berarti kendali atas rekomendasi, dana politik, dan kontrak dukungan yang nilainya bisa mencapai miliaran rupiah.

Di kubu “status quo”, terlihat manuver halus dari para pemain lama. Mereka berupaya mempertahankan jaringan loyalis yang sudah mapan di tingkat kabupaten/kota, mengandalkan pengalaman dan kedekatan dengan elite pusat. Sementara itu, kubu “pembaharu” mulai memainkan narasi perubahan: regenerasi, kaderisasi, dan “Golkar yang kembali pada rakyat”.

Namun jangan salah, narasi idealis itu juga punya aroma kepentingan. Di belakang setiap spanduk perubahan, selalu ada kantong politik yang sedang menyiapkan bahan bakar logistik. Sumber lain menyebut, beberapa figur muda yang disebut-sebut bakal maju justru sedang diuji kesetiaan mereka oleh petinggi partai di pusat.

"Siapa pun bisa maju, tapi kalau tak punya restu pusat dan modal kuat, jangan harap bisa lewat Musda. Di Golkar, restu dan rupiah berjalan beriringan,” ujar seorang pengamat politik yang lama mengamati pola permainan partai kuning ini.

Malam ini, suasana di Pekanbaru lebih mirip pra-perang dingin. Para tokoh partai berkeliling diam-diam, dari lobi hotel ke kamar diskusi, dari meja makan ke meja transaksi. Tidak ada suara keras, tapi tekanan terasa di udara. Semua tahu: satu langkah salah bisa membuat karier politik berakhir sebelum Musda dimulai.

Besok, panggung akan dibuka dengan doa dan pidato persatuan. Tapi di balik tepuk tangan, Golkar Riau sedang mempertaruhkan arah masa depan: apakah tetap jadi arena elite yang nyaman dengan kekuasaan lama, atau berani membuka jalan bagi generasi baru yang siap mengguncang akar beringin.

Satu hal pasti, Musda kali ini bukan tentang demokrasi internal. Ini tentang siapa yang paling lihai menari di antara bayangan kekuasaan.

Editor : RRMedia
Komentar Via Facebook :