Puisi tentang Rempah: Wangi Rempah dari Timur Negeri, karya Tri Astoto Kodarie
WANGI REMPAH DARI TIMUR NEGERI
Oleh: Tri Astoto Kodarie
Mari kita hirup wangi-sedap rempah, aromanya
meninggalkan cemburu di warung-warung pinggir jalan
menawarkan tiap pejalan berpaling gelisah
Di ujung jalan, aku masih duduk di warung ikan bakar
hanya ingatan bau sedap rempah pada tuan Speelman,
bahkan melihat bayangmu menggambar bunga pala
kuncup cengkih, bahkan lada beratus karung
dipanggul para pribumi yang ringkih menuju pelabuhan
Dari timur negeri, wangi rempah telah ditukar dengan mesiu
termasuk sahabatmu Arung Palakka dan Kapiten Jonker
amat suka memuntahkan peluru-peluru di ladang-ladang
seluasan pulau Tidore meruntuhkan pohon-pohon pala
Bertahun lalu para majikan dari Barat berpesta
berdansa di palka kapal pribumi berbau anyir darah
yang berulang terdengar desis peluru berudara mesiu
Bayangmu tuan Speelman, masih berkisah di ingatanku
merampas jalur-jalur di laut yang telah kau susuri
tuan, pulau Tidore lelah tertidur berseprai kusut
dan di warung ikan bakar aroma rempah tajam
jauh dari sejarah usang tentang kekayaan rempah
di timur negeri tersedu meninggalkan luka.
Makassar-Parepare, 2022
Tri Astoto Kodarie, lahir di Jakarta, 29 Maret, besar di Purbalingga, sekolah di Yogya dan menetap di Parepare, Sulawesi Selatan. Ada 11 buku puisi tunggal yang telah terbit, paling baru buku kumpulan puisi Melolong (Circa, Yogya 2024). Buku puisinya berjudul Hujan Meminang Badai mendapatkan Penghargaan dari Kemdikbud Tahun 2012, serta berbagai penghargaan lainnya. Puisinya termuat pada di lebih seratus antologi puisi bersama di berbagai kota. Setelah pensiun dari guru, kini aktif memberikan pelatihan penulisan dan literasi di komunitas, pondok pesantren dan SMA/SMK di kota Parepare, Sulawesi Selatan. FB: Tri Astoto Kodarie. IG: @rumahpuisiparepare


Komentar Via Facebook :