Puisi tentang Sejarah: Kota Riuh dan Kenangan, Karya Uleceny Saguni
Kota Riuh dan Kenangan
Oleh: Uleceny Saguni
aku duduk pada bangku taman berwana hijau
terlihat pula papan nama bertuliskan; "Istana Kota Lama"
tempat mengabadikan kedatanganku
setidaknya, napak tilas puisiku sampai juga di kota Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah
sejenak aku terdiam:
di benakku, kata-kata kian berlompatan
seriuh kota lama dalam kenangan
dari tambatan dermaga niaga-niaga berhamburan
jual beli rempah-rempah berseliweran
tamu antar pulau negara pun hatinya tertawan
aku termangu di sini kawan
aku memilih menepi
di akar-akar pepohonan kian menjulang tinggi
kota Rebah aduhai
ada istana di pinggir sungai
simbol kemegahan peradaban negeri
kini menjadi serpihan cerita nan abadi
dari hulu Riau
kejernihan sungai Carang memukauku
mengalirkan kebeningan rindu
menyisakan perih dan haru
kini terserak di antara puing-puing masa lalu
kupungut ia dalam;
" lautan pena lautan rindu. "
Sumbawa Besar, 7 Oktober 2024.
Sulastri Saguni, dengan nama pena Uleceny Saguni. Lahir di Sumbawa 5 juli 1976. Seorang guru Matematika dengan hobi menulis puisi dan cerpen. Telah menerbitkan 3 buku antologi puisi tunggal dengan judul Rindu Perempuan Rumah Panggung dan Cinta Sebening Madu, juga Perempuan Penjaga Tradisi. Admin NTB menulis syair ASEAN di PERRUAS. aktif di menulis bersama di Dewan Sastra Jakarta, pendiri Komunitas Sastra Sumbawa PANRE SATERA SUMBAWA. Ia menulis cerpen bersama KMB. Aktif di Asqa Imagination School (AIS) #51. IG: @sulastrisaguni


Komentar Via Facebook :