Catatan Redaksi: Rupiah Tertekan, BBM disetel Ulang, Risiko lama Mengintai
Foto: Ist
RANAHRIAU.COM- Pelemahan rupiah yang menjadi terdalam di kawasan Asia bukan sekadar angka di layar perdagangan. Ia adalah alarm yang berdenting dari dalam negeri. Ketika analis menunjuk faktor domestik sebagai pemicu utama, sorotan tak bisa dihindarkan dari tekanan fiskal yang kian menebal, terutama bayang-bayang defisit APBN yang mendekati ambang 3 persen dari PDB.
Salah satu sumber tekanannya terang benderang: kebijakan energi. Saat harga minyak dunia melaju jauh di atas asumsi APBN di kisaran USD 70 per barel, keputusan menahan harga BBM menjadi beban yang harus dibayar mahal oleh negara. Subsidi dan kompensasi membengkak, ruang fiskal menyempit.
Langkah Pertamina menyesuaikan harga sebagian BBM nonsubsidi patut dibaca sebagai upaya meredam tekanan tersebut. Setidaknya, ada ruang napas bagi APBN yang selama ini dipaksa menanggung selisih harga energi.
Namun, keputusan mempertahankan harga Pertamax dan Pertamax Green menunjukkan pemerintah masih berhitung dengan aspek lain: daya beli kelas menengah. Kelompok ini bukan sekadar konsumen, tetapi motor penggerak ekonomi yang menjaga ritme pertumbuhan tetap hidup.
Di sinilah kebijakan berjalan di atas tali tipis. Di satu sisi, beban fiskal harus dikurangi. Di sisi lain, konsumsi masyarakat tak boleh tercekik. Risiko yang mengintai pun bukan hal baru: migrasi pengguna dari BBM yang lebih mahal ke yang lebih murah. Jika perpindahan ini masif, maka tujuan awal untuk menekan subsidi bisa meleset dari sasaran.
Kebijakan harga BBM, pada akhirnya, bukan sekadar soal angka, tetapi soal keseimbangan yang rapuh antara stabilitas fiskal dan daya tahan ekonomi masyarakat. Dan seperti banyak episode sebelumnya, tantangan terbesarnya bukan pada merumuskan kebijakan, melainkan menjaga agar efeknya tidak berbalik arah.


Komentar Via Facebook :