Takbir Bergema, Pintu Rutan Terbuka: Lebaran Spesial ala Gus Yaqut
RANAHRIAU.COM- Opini ini mungkin terasa seperti nada sumbang di tengah gegap gempita takbir, tetapi justru dari sanalah publik mulai membaca: ada yang ganjil, ada yang tak selesai dengan akal sehat.
Kisah ini tak lahir dari ruang hampa. Ia bermula dari pernyataan Silvia Harefa, istri dari Immanuel Ebenezer atau Noel, usai menjenguk sang suami di hari pertama Idulfitri 1447 H. Sebuah momen yang semestinya penuh haru, justru berubah menjadi pintu masuk bagi pertanyaan yang lebih besar, tentang siapa yang benar-benar merasakan makna “lebaran di balik jeruji”, dan siapa yang hanya singgah sebentar sebelum kembali ke ruang nyaman.
Di sisi lain, keputusan yang melibatkan Komisi Pemberantasan Korupsi disebut berangkat dari alasan “permintaan keluarga”. Frasa ini terdengar sederhana, bahkan manusiawi. Namun di telinga publik, ia bisa berubah menjadi gema yang mengusik: sejak kapan hukum bekerja berdasarkan siapa yang meminta?
Sorotan pun mengarah pada Yaqut Cholil Qoumas. Kabar keluarnya dari rumah tahanan untuk merayakan Lebaran memantik satu pertanyaan sederhana namun tajam: apakah keadilan kita masih punya rasa malu?
Lebaran adalah tentang kembali ke fitrah. Tentang kesederhanaan, kejujuran, dan kesetaraan di hadapan Tuhan. Ironisnya, justru di momen sakral ini publik disuguhi pemandangan yang terasa seperti “jalur khusus” bagi mereka yang punya posisi. Di luar sana, ribuan tahanan lain merayakan Idul Fitri di balik jeruji, dengan menu seadanya, pelukan yang tertunda, dan rindu yang ditelan diam-diam. Tidak ada karpet merah. Tidak ada pintu yang dibuka sementara.
Alasan “permintaan keluarga” mungkin sah secara administratif. Tapi secara moral, ia membuka ruang tafsir yang berbahaya. Jika satu orang bisa keluar karena alasan kemanusiaan, mengapa yang lain tidak? Apakah semua keluarga punya akses yang sama untuk “meminta”? Ataukah ada hierarki tak kasat mata yang menentukan siapa yang didengar dan siapa yang diabaikan?
Di negeri ini, masalah terbesar hukum bukan hanya soal benar atau salah, tapi soal rasa keadilan. Ketika publik melihat perbedaan perlakuan yang mencolok, kepercayaan pun retak. Hukum tak lagi dipandang sebagai penjaga keadilan, melainkan seperti pintu yang bisa diketuk lebih keras oleh mereka yang punya kuasa.
Lebaran seharusnya menjadi momen refleksi, bukan hanya bagi individu, tapi juga bagi institusi. Bahwa keadilan tidak boleh ikut mudik meninggalkan prinsipnya. Bahwa hukum tidak boleh berlebaran dengan standar ganda.
Jika tidak, maka yang tersisa hanyalah ironi: ketika takbir berkumandang memanggil kesucian, tapi praktik di lapangan justru mengingatkan bahwa keadilan masih memilih-milih siapa yang layak merasakannya.
Penulis : Abdul Hafidz AR, S.IP, Pimred ranahriau.com


Komentar Via Facebook :