Pesan Keras Listyo Sigit Prabowo: Persatuan Dijaga, Siapa yang Dianggap Ancaman?
Foto: Ist
PEKANBARU, RANAHRIAU.COM- Kunjungan Listyo Sigit Prabowo ke Riau dalam agenda Safari Ramadhan bukan sekadar rutinitas keagamaan. Di balik narasi silaturahmi dan tausiyah persatuan, terselip pesan keras: negara sedang siaga terhadap ancaman perpecahan dan Polri bersiap menjadi garda terdepan, bahkan hingga ke ruang-ruang sosial paling kecil.
Bertempat di Masjid Al-Adzim Polda Riau, Selasa (17/3/2026), Kapolri berbicara di hadapan audiens lintas sektor tokoh agama, akademisi, buruh, mahasiswa, hingga ojek online. Komposisi ini bukan kebetulan. Ini adalah potret mini Indonesia sekaligus arena strategis untuk mengunci loyalitas sosial di tengah situasi nasional yang disebut “kian kompleks”.
Namun, publik patut bertanya: mengapa narasi “persatuan” kembali digaungkan dengan intensitas tinggi?
Dalam pidatonya, Sigit mengingatkan bahaya laten dari narasi provokatif yang bisa menyusup ke kegiatan masyarakat. Pernyataan ini bukan sekadar imbauan normatif, melainkan sinyal kuat bahwa negara melihat potensi disrupsi sosial sebagai ancaman nyata dan mungkin, sudah di depan mata. “Jangan sampai kegiatan disusupi hal-hal yang memecah belah,” tegasnya.
Kalimat ini terdengar sederhana. Tapi dalam konteks politik dan keamanan, ini bisa dibaca sebagai peringatan dini terhadap potensi gerakan sosial yang dianggap “tidak sejalan”.
Di sisi lain, langkah konkret langsung dipertontonkan. Kapolri meresmikan renovasi masjid, simbol penguatan spiritual sekaligus mengukuhkan Satgas PHK dan Ojol Kamtibmas Presisi. Kombinasi yang menarik: agama dan keamanan dilebur dalam satu panggung. Pertanyaannya, apakah ini bentuk pendekatan humanis, atau justru ekspansi kontrol sosial berbasis komunitas?
Lebih jauh, Sigit menyinggung ambisi besar Indonesia menjadi kekuatan ekonomi dunia peringkat tiga atau empat. Sebuah visi optimistis namun juga sarat prasyarat: stabilitas absolut.
Di sinilah letak benang merahnya. Stabilitas menjadi kata kunci. Dan dalam banyak kasus, stabilitas seringkali menjadi alasan legitimasi untuk memperketat kontrol.
Kapolri juga menyoroti pentingnya kualitas SDM dan kesiapan menghadapi krisis global. Pernyataan ini memperlihatkan bahwa aparat tidak hanya bicara soal keamanan konvensional, tetapi juga mulai masuk ke wilayah ekonomi dan sosial, sebuah perluasan peran yang tidak bisa dianggap remeh.
Di ujung pidatonya, Sigit menegaskan pentingnya community policing. Secara konsep, ini adalah kemitraan antara polisi dan masyarakat. Namun dalam praktik, efektivitasnya sangat bergantung pada satu hal: apakah masyarakat diberdayakan, atau justru diawasi?
Safari Ramadhan kali ini menyisakan dua wajah. Di satu sisi, ada pesan persatuan dan harapan menuju Indonesia maju. Di sisi lain, tersirat kekhawatiran negara terhadap potensi gejolak yang dijawab dengan pendekatan keamanan hingga ke akar rumput.
Pertanyaannya kini terbuka lebar:
apakah ini langkah menjaga bangsa, atau tanda bahwa negara mulai gelisah menghadapi rakyatnya sendiri?


Komentar Via Facebook :