Dino Patti Djalal: BoP Masih Rapuh dan Penuh Risiko

Dino Patti Djalal: BoP Masih Rapuh dan Penuh Risiko

Foto: ist

JAKARTA, RANAHRIAU.COM- Mantan Wakil Menteri Luar Negeri RI, Dino Patti Djalal, menilai operasional Board of Peace (BoP) yang dibentuk Presiden AS Donald Trump masih berada dalam fase rapuh dan berisiko tinggi.

Menurut Dino, tantangan terbesar BoP bukan hanya pada aspek diplomasi politik, tetapi juga pada implementasi keamanan di lapangan, terutama terkait pembentukan Palestinian Security Force dan International Stabilization Force (ISF).

“Proses ke depan masih rapuh dan penuh risiko. Tantangan utamanya ada pada keamanan di lapangan, bagaimana koordinasi antara Palestinian Security Force dan ISF berjalan efektif tanpa memicu friksi baru,” ujarnya dalam keterangan terpisah.
Dino menilai keberhasilan BoP sangat bergantung pada penerimaan masyarakat lokal serta legitimasi politik di antara para pihak yang bertikai. Tanpa dukungan politik yang inklusif, terutama dari unsur Palestina sendiri, stabilisasi jangka panjang akan sulit tercapai.

Ia juga menyoroti dominasi peran Presiden Trump dalam struktur BoP. Mulai dari pembentukan lembaga, pemilihan anggota Dewan Eksekutif, hingga kepemimpinan langsung tanpa batas waktu, semuanya berada di bawah kendali Gedung Putih.
“Peran Trump sangat dominan. Ini bisa mempercepat keputusan, tetapi juga menimbulkan pertanyaan tentang checks and balances serta legitimasi internasional, apalagi BoP berada di luar kerangka PBB,” kata Dino.

Ketiadaan perwakilan Palestina dalam Dewan Eksekutif turut menjadi sorotan. Dino mengingatkan bahwa setiap inisiatif perdamaian yang tidak melibatkan aktor utama konflik secara langsung berpotensi menghadapi resistensi di tingkat akar rumput.

Sementara itu, Indonesia sendiri akan mengirim 8.000 personel untuk mendukung ISF dan menempati posisi wakil komandan pasukan. Langkah ini dinilai sebagai bentuk kontribusi aktif Indonesia dalam stabilitas global, namun juga memerlukan kalkulasi diplomatik yang matang.

“Partisipasi Indonesia harus diiringi kejelasan mandat, aturan pelibatan, serta jaminan netralitas,” tambah Dino.
Dengan dinamika geopolitik yang kompleks di Timur Tengah, masa depan BoP kini menjadi perhatian banyak pihak. Apakah ia akan menjadi terobosan diplomatik baru, atau justru memicu ketegangan baru, sangat bergantung pada legitimasi, inklusivitas, dan keseimbangan kekuasaan dalam pelaksanaannya.

Editor : RRMedia
Komentar Via Facebook :