PIP Tak Cair, Buku Tak Terbeli: Kisah Pilu Yohanes, Bocah 10 Tahun di Ngada

PIP Tak Cair, Buku Tak Terbeli: Kisah Pilu Yohanes, Bocah 10 Tahun di Ngada

Foto: Ist

NGADA, RANAHRIAU.COM- Kisah pilu datang dari Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Yohanes Bastian Roja (10), seorang siswa sekolah dasar, ditemukan meninggal dunia setelah mengakhiri hidupnya sendiri. Peristiwa tragis ini diduga dipicu oleh tekanan psikologis akibat kebutuhan sekolah yang tak mampu dipenuhi keluarganya.

Bupati Ngada, Raymundus Bena, mengungkapkan hasil temuan tim yang turun langsung ke lapangan. Berdasarkan keterangan yang dihimpun, sebelum kejadian Yohanes kerap meminta ibunya untuk membelikan buku dan pena. Namun permintaan itu tak dapat dipenuhi karena keterbatasan ekonomi.

Tak hanya itu, Yohanes juga beberapa kali menanyakan pencairan dana Program Indonesia Pintar (PIP) yang ia terima sebagai bantuan pendidikan.

“Dia sering bertanya kapan PIP beasiswanya diurus. Ibunya menyampaikan agar menunggu proses pencairan di bank kabupaten,” ujar Raymundus kepada wartawan, Kamis (05/02/2026).

Namun, harapan itu kembali tertunda. Secara administratif, pencairan dana belum dapat dilakukan karena KTP ibunya masih tercatat sebagai warga Kabupaten Nagekeo, bukan Kabupaten Ngada sesuai domisili saat ini. Akibatnya, proses pencairan beasiswa terhambat.

“Ibunya diminta pulang dan mengurus administrasi terlebih dahulu. Sampai kejadian itu terjadi, proses tersebut belum sempat diselesaikan,” jelas Raymundus.

Pergi ke Kebun, Tak Pernah Kembali
Pada hari kejadian, Yohanes sempat pergi ke rumah kebun milik neneknya. Saat itu, sang nenek tidak berada di tempat, dan Yohanes sendirian. Beberapa warga yang melintas sempat menanyakan mengapa ia tidak masuk sekolah. Yohanes menjawab bahwa ia sedang sakit kepala. Tak lama kemudian, kabar duka menyebar. Bocah yang dikenal pendiam itu ditemukan telah meninggal dunia.

Yatim, Hidup Berpindah-pindah
Dari temuan awal tim, Yohanes diketahui merupakan anak yatim. Ayahnya meninggal dunia saat ia masih kecil. Ia adalah anak bungsu dari lima bersaudara.

Dalam kesehariannya, Yohanes lebih banyak tinggal bersama neneknya di rumah kebun. Ibunya tinggal di kampung lain bersama ayah tiri dan empat anak lainnya. Kondisi ini diduga turut memengaruhi kondisi psikologis korban.

“Pengalaman hidup dan situasi keluarga ini kemungkinan besar membentuk tekanan emosional yang berat bagi anak,” ujar Raymundus.

Pemerintah Janji Evaluasi
Menanggapi peristiwa ini, Pemerintah Kabupaten Ngada menyatakan akan melakukan evaluasi serius, khususnya terkait akses bantuan pendidikan dan persoalan administrasi kependudukan.
Raymundus menyebut pihaknya akan memperketat pendataan dan melakukan pendekatan langsung ke masyarakat.

“Kalau masih ada masyarakat yang belum tertib administrasi, kami akan lakukan pendekatan door to door,” tegasnya.
Selain itu, pemerintah daerah juga berencana menyiapkan bantuan pendidikan versi daerah serta penyediaan seragam sekolah bagi siswa kurang mampu.

Raymundus dijadwalkan akan menghadiri prosesi adat kedukaan korban pada akhir pekan ini.

Tragedi Yohanes menjadi pengingat pahit bahwa bagi sebagian anak, pendidikan bukan sekadar hak, akan tetapi perjuangan yang sunyi dan berat, bahkan sejak usia sangat dini.

Editor : RRMedia
Komentar Via Facebook :