Ayat-Ayat Kiri dan Kepanikan Elite Agama: Ketika Tafsir mulai Menggugat Singgasana
Foto: Ist
RANAHRIAU.COM- Tidak ada yang lebih menakutkan bagi kekuasaan selain agama yang berhenti jinak. Dan tidak ada yang lebih membuat elite agama gelisah selain ayat-ayat yang dibaca ulang dengan keberpihakan pada rakyat. Di titik itulah Ayat-Ayat Kiri menjadi ancaman bukan bagi iman, tapi bagi status quo.
Judul buku ini memang provokatif, tapi kepanikan yang ditimbulkannya jauh lebih politis. Kata “kiri” langsung memicu refleks lama: stigmatisasi, penyesatan, hingga tuduhan membahayakan akidah. Padahal yang sedang digugat buku ini bukan Tuhan, melainkan persekutuan sunyi antara mimbar dan singgasana.
Selama bertahun-tahun, agama dipelihara dalam posisi aman: ramah pada penguasa, lunak pada pemodal, dan keras ke rakyat kecil. Ayat-ayat keadilan sosial dipreteli maknanya, disempitkan menjadi nasihat moral individual, sementara struktur ketimpangan dibiarkan berdiri kokoh. Elite agama tampil sebagai penjaga moral, tapi absen sebagai pengganggu ketidakadilan.
Ayat-Ayat Kiri datang membongkar kepalsuan itu. Buku ini mengingatkan bahwa Islam lahir sebagai gerakan pembebasan, bukan lembaga stempel kekuasaan. Zakat, larangan penimbunan harta, kecaman terhadap penindasan, semua itu bukan ornamen ibadah, melainkan sikap politik yang jelas: berpihak pada yang dilemahkan sistem.
Masalahnya, tafsir seperti ini mengancam kenyamanan. Ia membuat penguasa tak lagi bisa bersembunyi di balik simbol religius. Ia memaksa elite agama memilih: berdiri bersama rakyat, atau terus menjadi bagian dari mesin legitimasi kekuasaan.
Tak heran jika tafsir-tafsir kritis sering dicap “kiri”, “berbahaya”, atau “tidak sesuai tradisi”. Sebab tafsir semacam ini menolak peran agama sebagai obat penenang sosial. Ia menolak khutbah yang sibuk mengajarkan sabar kepada yang tertindas, tapi bisu di hadapan korupsi, perampasan tanah, dan eksploitasi buruh.
Elite agama terlalu lama menikmati posisi aman: dihormati, didanai, dan dilibatkan dalam seremoni kekuasaan. Dari mimbar, mereka mengatur moral rakyat, tapi jarang menggugat kebijakan yang melanggengkan kemiskinan. Agama direduksi menjadi etika personal, bukan kritik struktural. Saleh dijadikan ukuran simbolik, bukan keberpihakan nyata.
Ayat-Ayat Kiri mengganggu ketertiban palsu ini. Ia memaksa kita mengakui bahwa netralitas agama di tengah ketimpangan adalah keberpihakan terselubung pada yang kuat. Bahwa tafsir yang selalu menguntungkan penguasa bukanlah tafsir suci, melainkan tafsir politik yang malas mengaku sebagai politik.
Buku ini bukan tanpa risiko. Membaca ayat-ayat dengan kacamata keadilan sosial berarti membuka ruang konflik dengan kekuasaan dan otoritas keagamaan mapan. Tapi justru di situlah nilai pentingnya. Ia mengembalikan agama ke fungsi awalnya: mengganggu ketidakadilan, bukan merapikannya.
Mungkin inilah sebab sebenarnya mengapa Ayat-Ayat Kiri terasa “berbahaya”. Bukan karena ia menyimpang, melainkan karena ia mengingatkan sesuatu yang ingin dilupakan elite: bahwa ayat-ayat Tuhan tidak pernah diturunkan untuk menjaga singgasana, melainkan untuk merobohkannya ketika ia berdiri di atas penindasan.
Dan barangkali, yang paling menyakitkan bagi elite agama dan penguasa bukanlah kata “kiri” itu sendiri, melainkan fakta bahwa ayat-ayat tersebut masih hidup dan belum sepenuhnya berhasil dijinakkan.
Penulis : Abdul Hafidz AR, S. IP, Pimred ranahriau.com, aktif dalam berbagai kegiatan sosial ekonomi kemasyarakatan.


Komentar Via Facebook :