Gubernur NTT Akui Anak SD di Ngada meninggal Gantung Diri akibat Kegagalan Sistem Pemerintah
Foto: Ist, sumber : net
NGADA, RANAHRIAU.COM- Tragedi memilukan terjadi di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), ketika seorang bocah kelas IV sekolah dasar berusia 10 tahun ditemukan meninggal dunia dengan cara gantung diri.
Peristiwa yang terjadi di Desa Jerebuu pada akhir Januari 2026 itu mengguncang nurani publik setelah diketahui bahwa korban nekat mengakhiri hidupnya karena orang tuanya tidak mampu membeli buku dan pensil untuk keperluan sekolah.
Gubernur NTT Melki Laka Lena secara terbuka menyampaikan duka cita mendalam sekaligus mengakui adanya kegagalan sistem pemerintahan, mulai dari tingkat provinsi, kabupaten, hingga perangkat paling bawah, yang tidak mampu mendeteksi dan menangani kesulitan hidup yang dialami anak tersebut.
Melki menyebut peristiwa ini sebagai tamparan keras, tidak hanya bagi pemerintah daerah, tetapi juga bagi nilai kemanusiaan secara keseluruhan.
Ia menegaskan bahwa pemerintah daerah seharusnya hadir lebih awal dalam mendeteksi kondisi sosial masyarakat, khususnya anak-anak dari keluarga tidak mampu.
Menurutnya, berbagai program pembangunan dan bantuan sosial yang selama ini dijalankan belum sepenuhnya menjangkau warga yang paling membutuhkan.
“Sebagai gubernur NTT, saya berduka cita mendalam. Adik kita mesti meninggal karena kegagalan sistem yang ada di pemerintah provinsi, Kabupaten Ngada sampai ke tingkat bawah,” ujar Melki mengutip Antara, Rabu (4/2/2026).
Ia menambahkan bahwa kejadian ini membuktikan masih adanya celah besar dalam sistem perlindungan sosial di NTT.
Lebih lanjut, Melki mengakui bahwa pemerintah daerah gagal mendeteksi sejak dini kesulitan ekonomi yang dihadapi keluarga korban.
Padahal, menurutnya, kebutuhan yang menjadi pemicu tragedi ini tergolong sangat mendasar, yakni buku dan alat tulis sekolah. Ia menilai bahwa jika sistem pendataan dan pendampingan sosial berjalan optimal, kasus seperti ini seharusnya dapat dicegah.
“Apapun kisahnya, ini adalah tamparan keras bagi kemanusiaan kita dan semua yang sudah kita kerjakan,” tegasnya.
Pernyataan ini sekaligus menjadi refleksi bahwa indikator keberhasilan pembangunan tidak hanya soal infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga tentang kemampuan negara melindungi warganya yang paling rentan.
Kasus ini semakin menyayat hati setelah terungkap bahwa sebelum meninggal dunia, korban sempat menuliskan sepucuk surat untuk ibunya.
Surat tersebut menggambarkan perasaan putus asa seorang anak yang ingin tetap bersekolah, tetapi terbentur keterbatasan ekonomi keluarga. Pada 29 Januari 2026, korban ditemukan tergantung di sebuah pohon cengkeh di sekitar lingkungan tempat tinggalnya.
Peristiwa ini memicu reaksi luas dari masyarakat dan pemerhati pendidikan, yang menilai bahwa masih banyak anak-anak di daerah tertinggal menghadapi tekanan sosial dan ekonomi berat tanpa pendampingan psikologis maupun bantuan nyata dari negara.
Menutup pernyataannya, Gubernur Melki menegaskan komitmen pemerintah Provinsi NTT untuk menjadikan tragedi ini sebagai pelajaran berharga agar tidak terulang kembali.
Ia menyatakan akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem perlindungan sosial, pendidikan, dan peran pemerintah desa hingga kabupaten dalam mendeteksi masalah warga sejak dini.
Pemerintah daerah juga berjanji memperkuat koordinasi lintas sektor agar kebutuhan dasar anak-anak, terutama dari keluarga miskin, dapat terpenuhi tanpa harus menunggu laporan atau viral di publik.
“Kami tidak ingin ada lagi nyawa yang meninggal sia-sia karena kegagalan sistem. Ini menjadi tanggung jawab kita bersama,” pungkasnya.


Komentar Via Facebook :