Anies Baswedan dan Politik Kendaraan Alternatif

Anies Baswedan dan Politik Kendaraan Alternatif

Foto: ist

RANAHRIAU.COM- Deklarasi Ormas Gerakan Rakyat yang menyatakan diri sebagai partai politik sekaligus mengusung Anies Baswedan sebagai calon presiden perlu dibaca secara hati-hati.

Dalam politik elektoral Indonesia, deklarasi bukanlah penentu, melainkan indikator awal dari sebuah kegelisahan politik, baik dari pendukung maupun dari figur yang diusung.

Gerakan Rakyat, hingga saat ini, belum memiliki rekam jejak elektoral, struktur legislatif, maupun basis kekuasaan yang teruji. Menjadikannya kendaraan menuju kursi presiden adalah langkah yang sah secara aspiratif, tetapi belum memadai secara politik.

Sejarah pemilu menunjukkan bahwa partai baru dengan tujuan tunggal kerap menghadapi tantangan serius dalam membangun daya saing nasional.

Anies Baswedan sendiri tetap merupakan figur dengan pengenalan publik tinggi. Namun politik pasca Pilpres 2024 menegaskan satu realitas penting: popularitas personal tidak selalu berbanding lurus dengan kekuatan politik struktural.

Hingga kini, belum tampak dukungan eksplisit dari partai-partai besar yang dapat mengubah peta kekuasaan secara signifikan.

Sikap senyap elite politik terhadap deklarasi ini patut dicatat. Dalam politik, diam bukanlah netralitas, melainkan bentuk kalkulasi.

Partai-partai besar cenderung menunggu bukti konkret kapasitas elektoral, daya konsolidasi, dan peluang menang sebelum mengambil posisi.

Risiko terbesar dari situasi ini adalah terjebaknya Anies Baswedan dalam peran simbolik: tokoh dengan basis pendukung setia, namun minim pengaruh dalam pengambilan keputusan politik nasional.

Indonesia tidak kekurangan figur populer; yang dibutuhkan adalah kepemimpinan yang ditopang oleh struktur kekuasaan yang efektif.

Hal ini menjadi sebuah catatan bahwa peluang Anies Baswedan untuk kembali tampil dalam kontestasi nasional masih terbuka.

Namun, peluang itu tidak akan ditentukan oleh deklarasi atau simbol, melainkan oleh langkah-langkah nyata: penguasaan partai dengan daya elektoral, konsolidasi elite politik, dan relevansi kebijakan yang menjawab tantangan masa depan.

Politik adalah seni kemungkinan, tetapi juga disiplin realitas. Tanpa pijakan struktural yang kuat, harapan sekuat apa pun akan sulit diterjemahkan menjadi kemenangan.

 

Penulis : Abdul Hafidz AR, S.IP, Pimred ranahriau.com


 

Editor : RRMedia
Komentar Via Facebook :