Batu Akik dan Dopamin: Mengapa Logika Kalah Telak dari Hobi
Foto: Ist
RANAHRIAU.COM- Obsesi terhadap batu akik yang bagi sebagian orang tampak irasional sebenarnya dapat dijelaskan secara lebih ilmiah, psikologis, bahkan sosiokultural.
Apa yang terlihat sebagai “pemborosan” ratusan ribu hingga jutaan rupiah sesungguhnya adalah manifestasi dari mekanisme kompleks dalam otak manusia ketika berhadapan dengan hobi, koleksi, dan makna personal.
Pertama, dari sudut pandang psikologi perilaku, hobi bekerja melalui sistem reward di otak, khususnya pelepasan dopamin.
Dopamin bukan hanya hormon kebahagiaan, melainkan hormon antisipasi. Ketika seseorang melihat batu akik dengan pola unik, warna langka, atau cerita tertentu, otak merespons dengan ekspektasi kepuasan.
Sensasi “ingin memiliki” itu mirip dengan mekanisme yang terjadi pada kolektor seni, jam mewah, vinil langka, hingga sneakers edisi terbatas. Bedanya hanya pada objeknya bukan pada proses biologisnya.
Kedua, secara kognitif, manusia cenderung memberi nilai lebih pada sesuatu yang memiliki kelangkaan (scarcity effect) dan narasi.
Batu akik tidak lagi dipersepsikan sebagai batu biasa ketika ia diberi label: batu tua, batu alam tertentu, hasil temuan lokasi spesifik, atau diasosiasikan dengan simbol budaya dan sejarah.
Nilai ekonominya mungkin subjektif, tetapi nilai simboliknya sangat nyata bagi pemiliknya. Di sinilah logika pasar bercampur dengan logika emosi.
Ketiga, dari perspektif sosiologi, hobi seperti batu akik berfungsi sebagai identitas sosial. Ia menjadi penanda keanggotaan dalam komunitas tertentu dengan bahasa, standar kualitas, dan hierarki sendiri.
Ketika seseorang mengoleksi, memamerkan, atau membicarakan batu akik, ia sedang berpartisipasi dalam ekosistem sosial yang memberi rasa memiliki (sense of belonging).
Kritik dari luar komunitas sering muncul justru karena perbedaan kerangka nilai: apa yang bermakna bagi satu kelompok, dianggap absurd oleh kelompok lain.
Keempat, ada aspek psikologi eksistensial yang jarang disadari. Hobi memberi ruang kontrol di tengah hidup yang penuh tuntutan dan ketidakpastian.
Dalam dunia kerja, relasi sosial, dan tekanan ekonomi, manusia sering kehilangan otonomi. Hobi betapapun “tidak masuk akalnya” menjadi wilayah personal yang sepenuhnya bisa dikendalikan: memilih, membeli, merawat, dan menikmati tanpa perlu legitimasi publik.
Maka, ketika seseorang menghabiskan uang untuk batu akik, persoalannya bukan semata soal nilai material. Yang dibeli adalah pengalaman emosional, kepuasan estetika, rasa tenang, identitas diri, dan kadang pelarian dari rutinitas yang melelahkan. Penilaian “nggak jelas” sering lahir dari kacamata rasional-ekonomis yang sempit, yang mengukur segalanya dengan fungsi praktis semata.
Tentu, tetap ada batas sehat. Ketika hobi menggerus kewajiban hidup, stabilitas finansial, atau relasi sosial, ia berubah dari kesenangan menjadi masalah. Namun selama masih dalam koridor kesadaran dan tanggung jawab, hobi termasuk batu akikbukanlah penyimpangan, melainkan ekspresi kemanusiaan.
Jadi mungkin yang perlu dipertanyakan bukan: “Mengapa bisa senafsu itu pada batu?”
Melainkan: “Mengapa manusia selalu dituntut untuk membenarkan kebahagiaannya di hadapan orang lain?”
Ckckck…
Ilmu pengetahuan justru membuktikan satu hal: manusia memang tidak diciptakan untuk hidup sepenuhnya rasional. Dan di situlah hobi menemukan rumahnya.
Penulis : Abdul Hafidz AR, S. IP, Pimred ranahriau.com, sedikit gila dengan batu


Komentar Via Facebook :