Jurus Serang-Serang berakhir Mengerang

Jurus Serang-Serang berakhir Mengerang

Foto: Ist

RANAHRIAU.COM- Konflik internal di tubuh Pemerintah Daerah Kabupaten Kampar akhirnya sampai pada titik yang tidak bisa lagi ditutupi.

Drama panjang yang selama ini bersembunyi di balik pintu rapat, bisik-bisik lorong kantor, hingga percakapan warung kopi, kini pecah terang-terangan. Tepat 1 Desember 2025, Bupati Kampar H. Ahmad Yuzar mengambil langkah besar: mencopot H. Hambali dari jabatan Sekretaris Daerah setelah kurang lebih dua tahun memegang posisi tertinggi dalam hierarki ASN Kampar.

Yang membuat publik tercengang bukan hanya pencopotannya, tapi juga tempat pendaratan barunya, demosi langsung sebagai staf khusus di Dinas Sosial.

Ondekkkk... kalau dalam bahasa Kampar, “indak sangko ka nan ciek, tinggi-tinggi tobang, lambek-lambek tingge.” Miris, tapi begitulah realitas politik: yang hari ini ditinggikan, besok bisa saja dijatuhkan tanpa kasihan.

Langkah ini bukan muncul tiba-tiba. Ini hanyalah "puncak candika" dari ketegangan panjang antara Sekda dan Bupati. Sejak beberapa bulan lalu, tanda-tandanya sudah jelas.

Mulai dari pernyataan-pernyataan kontroversial H. Hambali yang mengkritik arah kebijakan bupati, munculnya video rekaman kekecewaan terhadap pimpinan daerah, hingga pernyataan terkait Program Strategis Nasional (PSN) yang kali ini menyeret nama Wakil Bupati Kampar, Hj. Misharti.

"Buek apo lah ocu ko, kalau la banyak cito taciciu, payah juo manyambungnyo baliok."

Banyak yang meyakini, rekam jejak digital itulah yang akhirnya mengubur mimpi manis Hambali untuk menutup karier birokrasi sebagai Sekretaris Daerah Kabupaten Kampar. Pepatah lama tidak pernah keliru: “apo yang ditobun, itu lah yang akan dituai.” Dan kini, tanaman yang dirawat itu tampaknya bukan bunga harum, tapi duri yang membuat langkah semakin sakit.

Dulu Bersahabat, Kini Berseberangan: Ke Mana Hilangnya Keeratan Itu?

Pertanyaan paling sering muncul di tengah masyarakat adalah: “Dulu tu uwang du akrab bonau, condo sahabat karib. Lah kini bakalau, Apo pulo salahnyo?”

Jawabannya sederhana: politik tak punya teman abadi.

Menjelang Pilkada Kampar kala itu, dinamika politik benar-benar panas. Lembaga survei bermunculan bak cendawan musim hujan.

Hasilnya pun beragam, ada yang realistis, ada yang aneh-aneh, sampai masyarakat bingung menilai mana yang kredibel.

Bahkan, beberapa lembaga survei mendapat label “abal-abal” oleh sekelompok orang hingga berujung laporan ke Bawaslu.

Begitulah permainan politik: bila kepentingan terganggu, laporan bisa jadi senjata.

Di tengah hiruk-pikuk itu, nama Hambali sebagai PJ Bupati saat itu masuk dalam radar elektabilitas. Ia mulai diperhitungkan sebagai salah satu tokoh potensial untuk Pilkada berikutnya.

Sementara itu, Ahmad Yuzar yang kini menjadi bupati, pada waktu itu belum begitu diperhitungkan. Namun situasi berubah cepat ketika gerakan politik dari lingkaran PJ Bupati mulai tercium, menunjuk Ahmad Yuzar sebagai PJ Sekda, lalu memberi jalan baginya untuk melompat ke panggung politik.

Strategi itu berhasil. Ahmad Yuzar mundur dari ASN, maju dalam Pilkada, dan akhirnya menjadi Bupati Kampar periode 2025–2030. Pada fase ini, keduanya terlihat sangat kompak.

Namun, seperti cerita klasik politik lainnya, keharmonisan itu retak begitu ditemukan adanya permainan “tiga kaki”.

Entah benar atau hanya persepsi politik, tetapi isu itu cukup untuk memicu keretakan.

Dalam politik, persepsi bisa jauh lebih mematikan daripada fakta. Dan dari sinilah hubungan yang dulunya solid berubah menjadi kerapuhan yang menunggu waktu untuk pecah. Tabukak coki Namo du.

Kolaborasi yang diharapkan mampu menciptakan stabilitas pemerintahan ternyata tak bertahan lama.

Ibarat rumah megah yang pondasinya retak, lambat-laun bangunannya pasti runtuh juga.
Ambisi politik, ego, dan pola komunikasi yang tak lagi searah membuat hubungan dua poros kekuasaan ini tak bisa diselamatkan.

Puncaknya terjadi hari ini, ketika jurus serang-serang yang selama ini dimainkan justru berbalik arah. Yang dulu menyerang, kini malah mengerang.

Yang dulu merasa kuat, kini menjadi pihak yang tersudut. Itulah hukum rimba dalam politik: siapa yang lengah, dialah yang tumbang dan konai hantam.

Akankah “Kampar di Hati” Kini Lebih Mudah Terwujud?

Dengan dicopotnya Hambali, roda pemerintahan kini berada sepenuhnya dalam kendali bupati.

Tidak ada lagi dualisme, tidak ada lagi tarik-menarik, dan tidak ada lagi suara internal yang berjalan berlawanan arah.

Setidaknya, secara struktur, jalur komando kini jelas: satu arah, satu keputusan.

Masyarakat tentu berharap, kondisi ini menjadi awal yang baru bagi Kampar.
Bukan awal untuk memperkuat kekuasaan, tetapi awal untuk memperbaiki pelayanan, menyatukan birokrasi, dan mencairkan ketegangan.

"Kami masyarakat ko cuma ingin Kampar aman, maju, dan ado perubahan. Ndak kan payah oso do kan?" ujar seorang warga di pasar Bangkinang ketika ditanya soal drama ini.

Dukungan masyarakat terhadap terwujudnya slogan “Kampar di Hati” juga cukup nyata. Warga ingin melihat Kampar tenang, pembangunan bergerak, dan konflik internal tidak lagi menghambat pelayanan.

Bagi masyarakat, yang terpenting bukan siapa yang kalah atau menang dalam pertarungan politik, tetapi apakah hidup mereka lebih mudah setelah ini. Itulah yang mereka tunggu.

Maka dari itu, momentum ini seharusnya menjadi kesempatan besar bagi bupati untuk menunjukkan bahwa slogan itu bukan sekadar kata-kata manis, tetapi niat yang sungguh-sungguh."Kalau ndak kini, bilo Tio maso le?"

Pada akhirnya, cerita ini mengajarkan satu hal:
Dalam politik, yang sering merasa paling kuat, justru bisa menjadi yang paling rapuh.

Jejak digital tak pernah hilang, ambisi tak pernah tidur, dan konflik internal selalu mencari celah untuk muncul.

Yang dulu memakai jurus serang-serang, kini justru terduduk mengerang akibat serangannya sendiri.

Kini tinggal satu pertanyaan tersisa:
Akankah Kampar benar-benar "di hati" setelah babak baru ini dibuka?

Waktu yang menjawab.
Kita sebagai masyarakat hanya bisa berharap, berdoa, dan terus mengawal—agar Kampar tidak hanya indah di slogan, tapi juga nyata dalam tindakan.

#TulisanBatasKota

Penulis : Yudi bule, Inisiator Kepucuk Riau 

Editor : RRMedia
Komentar Via Facebook :