Guru Banting Nasi Kotak di Kampar, Ketika Otoritas jadi Pertunjukan Kekuasaan Murahan

Guru Banting Nasi Kotak di Kampar, Ketika Otoritas jadi Pertunjukan Kekuasaan Murahan

Foto: Ist

RANAHRIAU.COM- Di depan ruang kelas salah satu sekolah di Kampar, sebuah adegan memalukan terjadi: seorang guru yang seharusnya menjadi kompas moral dengan enteng membanting nasi kotak di depan murid-muridnya.

Baca juga : Viral Guru Honorer di Kampar Banting Nasi Kotak di Depan Siswa

Bukan sekadar insiden sepele. Ini adalah simbol. Simbol kekuasaan yang disalahgunakan, simbol mentalitas feodal yang masih beranak-pinak dalam dunia pendidikan kita.

Mengapa tindakan ini layak mendapat sorotan keras? Karena sekolah bukan panggung kemarahan pribadi. Murid bukan penonton drama otoritas. Dan guru bukan diktator kecil yang boleh meledak seenaknya lalu berlindung di balik frasa klasik: “Namanya juga manusia.”

Mari kita kupas lebih dalam.

1. Apa yang Sebenarnya Dibanting? Bukan Nasi Kotak Tapi Harga Diri Murid

Di mata anak-anak, guru adalah figur panutan. Ketika seorang guru membanting makanan di depan mereka, itu bukan sekadar kehilangan kontrol emosional. Itu penghinaan. Itu intimidasi. Itu pelecehan psikologis yang bisa menetap jauh lebih lama daripada amarah sesaat sang guru.

Tindakan itu mengirim pesan keliru: bahwa kekesalan boleh diekspresikan dengan kekerasan simbolik, bahwa murid adalah pihak yang harus menelan malu demi kepuasan ego seorang dewasa.

2. Budaya Menginaikan Murid: Luka Lama yang Tak Pernah Diobati

Kasus ini bukan berdiri sendiri. Dunia pendidikan kita sering diwarnai tindakan merendahkan murid baik dengan kata-kata, ancaman, hukuman tak mendidik, hingga perilaku impulsif seperti ini. Semua dibungkus jargon “mendisiplinkan.”

Padahal, di balik itu ada pola: guru yang tidak pernah mendapat pelatihan manajemen emosi, institusi sekolah yang permisif terhadap kekerasan terselubung, dan masyarakat yang terus men-normalisasi perilaku otoriter.

3. Guru Boleh Marah, Tapi Tak Boleh Mempermalukan

Menjadi guru bukan berarti menjadi malaikat. Tapi menjadi guru berarti mengelola diri. Anda boleh marah—tapi Anda tak boleh mempermalukan. Anda boleh kecewa—tapi Anda tak boleh merendahkan harga diri murid.

Kemarahan seorang guru bukan alasan untuk mempertontonkan kekuasaan. Kalau guru tak bisa mengendalikan diri, bagaimana ia bisa mengajarkan kontrol diri pada murid?

4. Di Era Serba Viral, Guru Harus Lebih Cerdas

Setiap tindakan bisa direkam. Setiap insiden bisa meluas. Dan reputasi institusi bisa runtuh dalam hitungan jam. Guru hari ini harus sadar bahwa integritas bukan hanya idealisme; itu kebutuhan.

Bantingan nasi kotak itu mungkin hanya detik-detik singkat, tapi dampaknya panjang: murid trauma, sekolah tercoreng, masyarakat geram.

5. Apa yang Harus Dilakukan?

Sekolah harus bertindak tegas. Minimal teguran keras dan evaluasi perilaku. Jangan tutup mata.

Guru wajib mendapatkan pelatihan ulang tentang etika profesi dan kontrol emosi.

Orang tua harus bersuara. Karena diam adalah restu terhadap kekeliruan.

Murid harus mendapat ruang aman untuk melaporkan kejadian-kejadian seperti ini.

Nasi kotak mungkin kembali utuh kalau diangkat. Tapi kepercayaan murid tidak.

Dan apabila dunia pendidikan terus dibiarkan menjadi arena pelampiasan kekuasaan kecil, kita tak hanya kehilangan satu generasI kita kehilangan masa depan.

Jika guru ingin dihormati, hormatilah dulu murid-murid itu. Karena wibawa tidak lahir dari bentakan, apalagi bantingan. Wibawa lahir dari keteladanan.

 

Penulis : Abdul Hafidz AR, S. IP, Pimred di ranahriau.com, Pemerhati Sosial Politik Kebudayaan, aktif di berbagai organisasi kemasyarakatan. 
 

Editor : RRMedia
Komentar Via Facebook :