Duka dari Utara ke Barat: IMM Riau Bangkitkan Gerakan Kemanusiaan Lintas Batas

Duka dari Utara ke Barat: IMM Riau Bangkitkan Gerakan Kemanusiaan Lintas Batas

Foto: Ist

Sumut–Sumbar–Aceh Dilanda Bencana Besar, IMM Riau Jadi Oase Harapan: Dari Kritik Lingkungan hingga Gerakan Kemanusiaan yang Menggetarkan

PEKANBARU, RANAHRIAU.COM- Sumatera kembali menangis. Hujan ekstrem yang dipicu Siklon Tropis KOTO dan bibit siklon 95B menghajar Sumatera Utara, Sumatera Barat, hingga Aceh.

Dalam hitungan hari, banjir, longsor, dan angin kencang merenggut puluhan nyawa, merusak ribuan rumah, serta memaksa warga meninggalkan hidup yang sebelumnya mereka anggap aman.

Di Sumatera Utara, dua puluh empat nyawa melayang, puluhan lainnya terluka, dan lima orang masih hilang.

Sebelas kabupaten/kota porak-poranda, dari Tapanuli Selatan hingga Nias Selatan. Longsor terjadi beruntun, banjir meluber tanpa henti.

Sumatera Barat pun tak lebih beruntung. Tiga belas kabupaten/kota terdampak. Di Padang saja, 27 ribu warga harus berjuang menyelamatkan diri dari banjir malam hari yang datang seperti teror tak terlihat.

Pemerintah menetapkan tanggap darurat, sementara kerugian materiil ditaksir mencapai hampir lima miliar rupiah—angka yang terus naik seiring pendataan lanjutan.

Aceh menyusul dengan luka besar: 46.893 warga terdampak, hampir 1.500 orang mengungsi, sembilan wilayah dilanda banjir dan longsor. Bireuen, Aceh Utara, Aceh Timur, Singkil, hingga Gayo Lues tenggelam dalam kepanikan. Lhokseumawe bahkan menetapkan status Siaga Darurat untuk mempercepat respons bencana.

Namun di tengah reruntuhan duka ini, satu hal menarik perhatian: kayu-kayu gelondongan yang hanyut di sungai, menjadi bukti telanjang bahwa bencana ini bukan sekadar murka alam.

Ia adalah “pesan keras” dari hutan yang selama ini disayat habis oleh pembalakan liar dan pembiaran yang tak kunjung berakhir.

IMM Riau: Dari Kritik Tajam hingga Tindakan Nyata

Melihat skala bencana yang meluas lintas provinsi, DPD IMM Riau mengambil sikap tegas. Mereka menyebut tragedi ini sebagai kejahatan ekologis—bukan semata musibah alam, tetapi buah pahit dari kerusakan hutan yang dibiarkan bertahun-tahun tanpa penegakan hukum serius.

Karena itu, IMM Riau mendesak pemerintah pusat menetapkan Status Darurat Bencana Nasional.

Sebab menurut mereka, kapasitas daerah telah runtuh di hadapan skala kerusakan yang begitu masif. Penetapan status nasional diyakini menjadi kunci agar TNI, Polri, BNPB, hingga kementerian teknis dapat bergerak dalam satu komando terpadu.

Namun IMM Riau tidak berhenti di kritik.

Esok hari, Bidang SPM IMM Riau bergerak. Di bawah komando Muhammad Irfan, kader IMM se-Riau akan menggelar aksi solidaritas dan penggalangan dana bersama LAZISMU dan organisasi mahasiswa kampus lain.

Mereka tidak menunggu instruksi panjang, tidak menunggu sorotan kamera—mereka bergerak karena yakin kemanusiaan tak boleh menunggu.

Gerakan ini mengajak seluruh masyarakat Riau ikut bergotong royong membantu para korban yang kini kehilangan rumah, harta, bahkan keluarga tercinta.

“IMM tidak hanya berbicara, tetapi bekerja,” tegas Ketua DPD IMM Riau, Alpin Jarkasi Husein.

Ia menambahkan bahwa perjuangan IMM bukan hanya soal dakwah dan wacana, tetapi tentang keadilan ekologis dan keadilan sosial—dua hal yang tak bisa dipisahkan.

Di tengah bencana yang merentang dari pegunungan hingga pesisir, IMM Riau memutuskan untuk menjadi cahaya kecil yang menyala di antara gelapnya kabar duka.

Sebuah inspirasi bahwa ketika negara terlambat menengok luka rakyatnya, masyarakat sipil dapat menjadi yang pertama hadir.

Bahwa solidaritas, jika dikerjakan bersama, selalu lebih kuat daripada bencana mana pun.

Editor : RRMedia
Komentar Via Facebook :