PWNU Bergejolak, Ultimatum Syuriah Turunkan Gus Yahya Picu Getaran di Tubuh NU
Foto: Ist
Drama Internal Makin Panas, Para Ketua Wilayah Mulai Bersuara—Ada yang Patuh, Ada yang Jalan Moderat, Semuanya Menahan Nafas Menunggu Ledakan Berikutnya
JAKARTA, RANAHRIAU.COM- Aroma konflik di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) makin terasa menyengat. Sebuah risalah rapat harian Syuriah yang berisi ultimatum agar Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), mengundurkan diri dalam waktu tiga hari, pecah ke publik dan langsung memantik reaksi berlapis-lapis dari sejumlah Pengurus Wilayah NU.
Yang terjadi berikutnya bukan sekadar respons biasa—melainkan peta getaran politik yang memperlihatkan retakan halus, kehati-hatian ekstrem, hingga dukungan totok terhadap otoritas tertinggi Syuriah.
PWNU KALSEL: “Titah Rais Aam Adalah Hukum!” — Dukungan Paling Tegas Mengalir Deras
Dari Kalimantan Selatan, suara lantang datang tanpa tedeng aling-aling. Ketua PWNU Kalsel, Muhammad Tambrin, berdiri paling depan mendukung keputusan Syuriah. Nada tegasnya menunjukkan bahwa sebagian struktur NU di daerah merasa posisi Rais Aam tidak boleh digoyang oleh siapa pun, termasuk Ketua Umum.
“Rais Aam PBNU adalah jabatan tertinggi. Kami mendengar dan menaati titahnya,”
— Muhammad Tambrin, Ketua PWNU Kalsel.
Sikap ini praktis menjadi sinyal bahwa tuntutan mundur terhadap Gus Yahya bukan sekadar wacana perebutan pengaruh, tapi mulai mendapatkan legitimasi moral dari daerah.
PWNU JATENG: “Kami Tidak Ikut Campur”, Moderat, Cerdas, dan Tak Mau Terjebak
Berbeda dari Kalsel, PWNU Jawa Tengah memilih membentengi diri dari pusaran konflik. Ketua PWNU Jateng, Abdul Ghaffar Rozin, mengambil posisi netral strategis—dukung tidak, menolak pun tidak.
Sikap ini jelas menggambarkan kecemasan: satu langkah terlalu maju, bisa dianggap membangkang; terlalu diam, bisa dituduh menutup mata.
“Kami memohon PBNU mencari formulasi terbaik. Urusan pusat, biarkan dituntaskan otoritas pusat,” tegasnya.
PWNU Jateng rupanya sadar: konflik internal PBNU bukan arena untuk sembarang komentar, apalagi keputusan Syuriah sudah mengandung ancaman serius berupa pemakzulan.
PWNU DKI: “Jangan Berspekulasi, Ini Ranah Syuriah!” — Seruan Diam Demi Stabilitas
Dari Jakarta, Ketua PWNU DKI, Samsul Ma’arif, tampil sebagai penjaga ketertiban. Ia menegaskan bahwa apa pun yang terjadi dalam rapat Syuriah bukan konsumsi struktural di bawahnya.
“Kami menghargai semua pendapat, tapi biarkan PBNU memutuskan. Jangan beri komentar publik,” ujarnya.
Sikap DKI ini menegaskan: daerah menahan napas. Semua tidak ingin salah langkah di tengah suhu politik NU yang mulai mendidih.
Latar Konflik: Risalah Syuriah, Ultimatum 3 Hari, dan Ancaman Pemakzulan
Semua kegaduhan ini bermula dari dokumen rapat Syuriah PBNU di Hotel Aston, Jakarta, 20 November 2025.
Isinya menyengat: Gus Yahya diminta mundur dalam 3 hari.
Jika tidak, Syuriah akan mengambil langkah pemakzulan. Risalah ini menjadi bom waktu yang kini berdetak kencang di tubuh NU.
Hingga artikel ini diturunkan, PBNU maupun Gus Yahya belum buka suara.
Keheningan ini justru memperbesar spekulasi: apakah sedang dicari jalan damai? Atau justru sedang bersiap menghadapi pecah kongsi terbesar dalam sejarah PBNU sejak era Reformasi?
Warga NU di seluruh Indonesia kini menanti, dengan kecemasan yang mulai terasa nyata: Apakah NU akan memasuki babak krisis kepemimpinan terbesar dalam dekade terakhir?
Sementara ultimatum terus menghitung waktu.


Komentar Via Facebook :