Drama Kekuasaan Merah di Riau: Zukri kembali Nahkodai DPD PDI-P, Janji Bersih dari Manuver Pribadi

Drama Kekuasaan Merah di Riau: Zukri kembali Nahkodai DPD PDI-P, Janji Bersih dari Manuver Pribadi

Foto: Ist

PEKANBARU, RANAHRIAU.COM— Di tengah hiruk-pikuk dinamika internal PDI Perjuangan yang belakangan kerap dipenuhi faksi-faksi senyap, Zukri Misran kembali muncul sebagai figur sentral. Ia resmi dikukuhkan lagi sebagai Ketua DPD PDI-P Riau periode 2025–2030, mengulang formasi yang sama dengan Sekretaris Kaderismanto dan Bendahara Makmun Solihin sebuah komposisi yang oleh sebagian kader disebut sebagai “trio stabilitas”, sementara oleh pihak lain dibaca sebagai penguatan cengkeraman struktur lama.

Pelantikan berlangsung di Hotel Labersa, Sabtu (22/11/2025), dipimpin langsung oleh Ketua Bidang Industri, Perdagangan, dan Tenaga Kerja DPP PDI-P, Darmadi Durianto. Hadir pula sosok strategis DPP, Deddy Yevri Hanteru Sitorus, mengawasi prosesi bak audit politik langsung dari pusat kepada daerah. Seluruh jajaran DPC dan PAC se-Riau berbaris rapi, menyaksikan momen yang bisa saja menentukan arah gerak PDI-P Riau lima tahun mendatang.

Prosesi diawali pembacaan susunan pengurus oleh Zukri, kemudian pengucapan sumpah dan janji jabatan ritual formal yang di permukaan terlihat khidmat, namun menyimpan pesan tegas: tak boleh ada lagi pembelokan haluan, apalagi manuver-manuver gelap yang bisa mencoreng nama partai.

Zukri: “Ini Amanah Besar… dan Tekanan Besar.”

Dalam sambutan yang terasa seperti perpaduan antara syukur dan kegelisahan politis, Zukri tak menutupi beban jabatan yang kembali jatuh ke pundaknya.

“Ini bukan sekadar soal jabatan, tetapi tentang mimpi besar agar partai ini terus memberikan kontribusi bagi kemajuan negeri,” ujarnya.

Ucapan itu ibarat pesan kode: jabatan ini bukan hadiah, tetapi ujian loyalitas.

Lebih jauh, Zukri meminta DPP tidak ragu menegur jika DPD Riau mulai “melenceng.” Sebuah pernyataan yang jarang muncul dari pemimpin daerah, biasanya elite daerah cenderung menjaga jarak dari teguran pusat. Zukri justru membuka pintu selebar-lebarnya.

Jika kami keluar jalur, beri warning…”

Pernyataan ini jelas mencerminkan atmosfer internal yang sensitif: ada kewaspadaan, ada kehati-hatian, dan ada sinyal bahwa DPD ingin bermain bersih, atau minimal tampak bersih, di mata pusat.

Komitmen Tanpa Kepentingan Pribadi: Janji atau Alarm?

Zukri menutup sambutannya dengan menyerukan agar tak ada kepentingan pribadi dalam tubuh kepengurusan.

“Yang ada hanyalah kepentingan rakyat dan kepentingan partai di atas segala-galanya.”

Kalimat yang tampak manis, namun justru terasa seperti peringatan dini terhadap potensi gesekan internal yang mungkin sudah tercium.

Para pengurus diingatkan untuk setia pada sumpah jabatan, sehilir semudik, tanpa intrik. Sebuah ajakan persatuan yang biasanya muncul saat ketua membaca bahwa masa depan partai di daerah bisa digoyang oleh ego dan faksi-faksi kecil.

Arah Baru atau Repetisi Lima Tahun Lalu?

Kembalinya formasi kepengurusan lama menimbulkan pertanyaan tajam:
Apakah PDI-P Riau benar-benar siap melakukan refresh, atau ini sekadar mengulang pola lama dengan bendera baru?

Yang jelas, pelantikan ini bukan sekadar pengesahan struktur—ini adalah panggung konsolidasi kekuasaan, penguatan lini komando, dan penegasan bahwa PDI-P Riau sedang memasuki periode lima tahun yang akan diawasi ketat oleh pusat.

Dan Zukri, dengan segala ketenangan yang ditampilkannya, tahu betul: mengendalikan partai bukan hanya soal memimpin, tetapi soal bertahan di tengah arus yang tak pernah berhenti bergolak.

Editor : RRMedia
Komentar Via Facebook :