Ayah di Tengah Mesin Kapitalisme: Sebuah Catatan Sosialis di Hari Ayah Nasional

Ayah di Tengah Mesin Kapitalisme: Sebuah Catatan Sosialis di Hari Ayah Nasional

Foto: Ist

RANAHRIAU.COM- Tanggal 12 November kembali menandai peringatan Hari Ayah Nasional. Tapi di tengah gegap gempita ucapan di media sosial dan promosi diskon bertema “Father’s Day”, ada kenyataan pahit yang tak terucap: di republik ini, ayah sering kali bukan dirayakan, melainkan dilupakan.

Mereka adalah figur yang dipuja dalam simbol, namun diperas dalam sistem. Dalam struktur ekonomi yang tak kenal iba, ayah menjadi roda penggerak ekonomi yang nyaris patah. Ia bekerja melampaui batas manusiawi demi menunaikan tanggung jawab moral dan material — di tengah harga kebutuhan yang melonjak dan upah yang stagnan.

Di pabrik-pabrik, mereka berdiri di depan mesin-mesin yang berisik, menukar waktu bersama keluarga dengan target produksi. Di pelabuhan, mereka mengangkat kontainer tanpa jaminan keselamatan kerja. Di jalanan, mereka jadi pengemudi ojek daring yang berjuang antara bensin dan algoritma. Inilah potret ayah di negeri yang lebih menghormati korporasi ketimbang manusia.

Ironisnya, di layar kaca, korporasi yang sama menjual citra “ayah ideal”: sukses, mapan, gagah. Padahal jutaan ayah nyata justru tercekik oleh struktur ekonomi yang membuat mereka sekadar alat produksi di bawah tekanan neoliberalisme.

Mereka diajarkan untuk kuat, tapi tak pernah diberi ruang untuk rapuh. Diharuskan menjadi pemimpin keluarga, tapi dibiarkan tanpa jaring pengaman sosial.

Bagi ideologi sosialis, ayah bukan simbol patriarki, melainkan korban dari sistem yang memperalat patriarki untuk melanggengkan ketimpangan. Ia dituntut menanggung beban ekonomi, sementara negara dan pasar mencuci tangan. Dari tubuh-tubuh mereka lahir kenyamanan kelas atas, namun mereka sendiri terjebak dalam lingkaran kemiskinan dan lelah tak berujung.

Hari Ayah seharusnya menjadi hari untuk menuntut keadilan, bukan sekadar hari untuk berterima kasih. Memuliakan ayah berarti memperjuangkan sistem ekonomi yang manusiawi.

Itu berarti memperjuangkan upah layak, waktu kerja yang manusiawi, jaminan kesehatan, dan hak untuk beristirahat — sesuatu yang sering kali dianggap mewah di negeri yang katanya sedang tumbuh ini.

Karena sejatinya, cinta seorang ayah tidak bisa bertahan di atas tanah yang kering oleh ketimpangan sosial.

Hari Ayah bukan sekadar perayaan sentimental, tapi hari perlawanan terhadap sistem yang membuat ayah-ayah kita kehilangan martabatnya sebagai manusia.

Selamat Hari Ayah Nasional.
Untuk setiap peluh yang tak masuk laporan keuangan,
untuk setiap napas yang ditahan demi keluarga,
untuk setiap ayah yang diam-diam melawan sistem.
Kami menunduk — bukan karena tunduk, tapi karena hormat

 

Penulis : Abdul Hafidz AR, S.IP, Pimred di ranahriau.com, Wakil Ketua Bidang Tani dan Nelayan DPD Repdem Riau, Pemerhati Sosial dan aktif dibeberapa Organisasi kemasyarakatan.

Editor : RRMedia
Komentar Via Facebook :