Catatan Redaksi

Riau Butuh Pahlawan Baru: Semangat Juang yang Tak Sekadar Seremonial

Riau Butuh Pahlawan Baru: Semangat Juang yang Tak Sekadar Seremonial

Foto: Ist

PEKANBARU, RANAHRIAU.COM- Setiap 10 November, Indonesia memperingati Hari Pahlawan. Tapi di tengah gegap gempita upacara, baliho besar, dan tabur bunga di taman makam, pertanyaan paling sederhana justru menggema di tanah Riau: apakah kita masih mewarisi semangat para pejuang, atau sekadar memanfaatkan namanya?

Riau punya sejarah panjang tentang keberanian. Dari Tuanku Tambusai yang bertempur hingga titik darah terakhir, hingga Sultan Syarif Kasim II yang rela menyerahkan mahkota demi Republik — keduanya bukan sekadar nama dalam buku sejarah, tapi simbol moral bahwa kemerdekaan tidak pernah gratis.

Namun tujuh puluh sembilan tahun setelah proklamasi, Riau seolah kehilangan arah juangnya. Kita merdeka dari penjajahan asing, tapi masih terikat oleh belenggu lain: korupsi, kemiskinan, dan keserakahan. Rakyat masih menjadi penonton dari pesta kekuasaan, sementara sumber daya alam terus diperah tanpa keadilan.

Semangat kepahlawanan kini diuji bukan di medan perang, melainkan di meja birokrasi dan ruang sidang kebijakan. Pahlawan sejati bukan lagi yang menenteng senjata, tapi mereka yang berani menentang arus sistem yang timpang, guru yang tetap mengajar meski bergaji rendah, mahasiswa yang bersuara di tengah tekanan, dan aparat yang jujur di tengah godaan.

Hari Pahlawan di Riau seharusnya menjadi refleksi, bukan rutinitas. Karena negeri ini tak butuh pahlawan seremonial, tapi pahlawan moral mereka yang bekerja tanpa tepuk tangan, berjuang tanpa sorotan kamera, dan membela rakyat tanpa pamrih politik.

Dan jika generasi hari ini masih punya keberanian untuk jujur, maka api perjuangan Riau belum padam, hanya menunggu kembali dinyalakan oleh mereka yang masih percaya, bahwa kemerdekaan sejati belum selesai diperjuangkan.

Editor : RRMedia
Komentar Via Facebook :