Catatan Redaksi
Menatap Masa Depan Golkar Riau di Bawah Kepemimpinan Yulisman
Foto: Ist
PEKANBARU, RANAHRIAU.COM — Terpilihnya Yulisman secara aklamasi sebagai Ketua DPD I Partai Golkar Riau dalam Musyawarah Daerah XI Sabtu lalu bukan hanya menandai konsolidasi kekuatan partai berlambang pohon beringin, tetapi juga membuka babak baru perjalanan politik Golkar di bumi Lancang Kuning. Namun, di balik euforia kemenangan tanpa tandingan, tersimpan satu pertanyaan besar: ke mana arah Golkar Riau akan dibawa Yulisman?
Kemenangan aklamasi, dalam politik, sering kali dibaca sebagai simbol kekompakan. Namun di sisi lain, ia juga bisa menjadi indikasi stagnasi dinamika demokrasi internal. Golkar Riau kini berada di titik kritis — antara menjadi mesin politik yang segar dan progresif, atau terjebak dalam lingkaran status quo yang hanya menjaga kursi kekuasaan tanpa arah ideologis yang tajam.
Yulisman, yang juga Ketua DPRD Riau, kini memegang dua peran strategis: pemimpin politik dan pengendali arah kebijakan daerah. Ini posisi yang kuat, namun sekaligus rawan jebakan pragmatisme. Ia dituntut bukan hanya mampu menjaga soliditas internal partai, tetapi juga harus berani membangun citra baru Golkar sebagai partai modern, bersih, dan responsif terhadap aspirasi publik.
Golkar Riau masih dihantui bayang-bayang masa lalu: kasus korupsi, konflik internal, dan lemahnya kaderisasi. Publik Riau sudah jenuh dengan citra partai yang lebih sering tampil di ruang sidang pengadilan ketimbang di ruang gagasan. Yulisman harus memutus rantai itu — jika tidak, aklamasi hari ini bisa berubah jadi apatisme besok.
Tantangan berikutnya adalah regenerasi. Golkar Riau harus berani membuka ruang bagi kader muda, aktivis kampus, dan profesional untuk masuk dalam struktur partai. Partai ini tidak bisa lagi hanya bergantung pada wajah lama yang sudah terlalu sering menghuni kursi kekuasaan. Regenerasi bukan sekadar soal usia, tapi soal keberanian melahirkan ide-ide baru dalam politik daerah.
Yulisman memiliki peluang besar untuk mengembalikan Golkar sebagai partai tengah yang kuat di Riau dengan syarat, ia mampu menjadikan Golkar bukan sekadar kendaraan elektoral, tapi ruang gagasan publik. Golkar Riau harus menjadi pusat dialog politik yang membicarakan isu-isu krusial masyarakat: dari tata kelola sumber daya alam, pendidikan, hingga transparansi pemerintahan.
Jika Yulisman gagal membaca tanda zaman, maka kepemimpinannya hanya akan menjadi catatan singkat di lembar sejarah partai. Tapi jika ia berani membuka ruang reformasi, Golkar Riau bisa kembali menjadi kekuatan politik yang disegani, bukan karena uang dan kekuasaan, tetapi karena gagasan, integritas, dan keberpihakan pada rakyat.
Politik Riau sedang mencari arah baru. Kini, semua mata tertuju pada Yulisman — apakah ia akan menumbuhkan akar baru bagi beringin tua itu, atau membiarkannya tetap rindang tapi rapuh di dalam?


Komentar Via Facebook :