Catatan Hari Pahlawan, Kita Merdeka Tapi tak Setara

Catatan Hari Pahlawan, Kita Merdeka Tapi tak Setara

Foto: Ist

RANAHRIAU.COM- Setiap 10 November, bangsa ini kembali membakar semangat yang katanya “kepahlawanan”. Pemerintah berpidato. Pejabat berseragam. Anak sekolah disuruh hormat. Tapi di balik seremoni yang serba gagah itu, ada ironi yang tak lagi bisa disembunyikan: kita sudah merdeka secara politik, tapi masih terjajah secara sosial.

Di pabrik-pabrik, buruh masih bekerja 12 jam dengan upah yang bahkan tak menutup kebutuhan dasar. Di sawah, petani masih menjual gabah murah sementara harga pupuk terus melambung. Di laut, nelayan masih menantang ombak demi sepotong roti. Dan di gedung-gedung tinggi, segelintir elite tertawa sambil menandatangani kontrak yang menjual sumber daya negeri ini kepada pemodal besar.

Lalu siapa pahlawan hari ini?
Apakah mereka yang memotong pita di atas panggung peresmian proyek? Atau mereka yang tetap bekerja di bawah panas matahari, memastikan negeri ini tetap hidup meski tak pernah tercatat dalam buku sejarah?

Negara seolah lupa, bahwa kemerdekaan tak cukup dengan kedaulatan politik. Tanpa keadilan sosial, kemerdekaan hanyalah topeng yang menutupi ketimpangan. Para pendiri bangsa sudah menulis jelas dalam Pembukaan UUD 1945: “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.” Tapi kalimat itu kini terdengar seperti kutipan puitis yang kehilangan makna di tengah sistem ekonomi yang menindas rakyat kecil.

Hari Pahlawan bukan sekadar soal perang melawan penjajah berseragam. Musuh kita hari ini jauh lebih licik: kemiskinan yang diwariskan sistem, keserakahan yang dilindungi hukum, dan ketidakadilan yang disamarkan dengan jargon pembangunan.

Ironisnya, banyak pejabat yang berdiri tegak membaca naskah ikrar pahlawan, tapi menutup mata pada penderitaan rakyat yang mereka wakili. Di podium mereka bicara tentang perjuangan, tapi di meja makan mereka menikmati hasil dari pengkhianatan terhadap cita-cita perjuangan itu sendiri.

Hari Pahlawan seharusnya menjadi momentum untuk menagih janji republik: bahwa tidak ada anak bangsa yang lapar di tanahnya sendiri, tidak ada rakyat yang miskin di negeri yang kaya, dan tidak ada pekerja yang tertindas di bawah sistem yang katanya demokratis.

Kita tak butuh pahlawan yang dimakamkan dengan upacara megah. Kita butuh pemimpin yang mau hidup sederhana, yang berpihak, yang menolak berkompromi dengan ketidakadilan.

Pahlawan sejati bukan yang dikenang di buku teks, tapi yang bergerak di jalanan, di pabrik, di ladang, di kampung-kampung tertinggal—mereka yang menolak diam saat ketimpangan menjadi norma.

Selamat Hari Pahlawan.
Berhentilah beretorika tentang perjuangan, jika di meja kekuasaan kita masih menikmati hasil penjajahan baru.

Karena hari ini, pahlawan bukan yang gugur di medan perang, tapi mereka yang masih berani melawan di medan ketidakadilan.

 

Penulis : Abdul Hafidz AR, S. IP, Pimred di www.ranahriau.com, Humas PWI Riau, Humas FKPM, aktif di beberapa organisasi sosial dan kemasyarakatan. 

Editor : RRMedia
Komentar Via Facebook :