Kalcer: Budaya yang Mati di Tangan Generasi Konten
Foto: Ist, Ilustrasi
RANAHRIAU.COM- Hari ini, semua hal bisa disebut “kalcer”.
Minum kopi di kafe estetik? Kalcer.
Dengerin lagu indie tapi nggak tahu maknanya? Kalcer.
Pakai totebag, baca buku setengah halaman, lalu upload ke story? Tentu saja, kalcer.
Ironis.
Budaya yang dulu lahir dari nilai, perjuangan, dan kebiasaan hidup, kini berubah jadi kemasan visual untuk eksistensi digital. “Kalcer” bukan lagi cerminan masyarakat, tapi hasil editan algoritma.
Di dunia maya, semua orang tampak berbudaya — asal tahu pose dan filter yang tepat.
Tapi di balik layar, sebagian besar hanya mengejar validasi, bukan nilai.
Mereka hidup dalam simulakra budaya, di mana gaya lebih penting dari isi, dan simbol lebih kuat dari makna.
Media sosial melahirkan generasi yang tak lagi membangun budaya, tapi memamerkan versi palsu darinya.
Kalcer tak lagi lahir dari kebersamaan, tapi dari engagement rate. Bukan hasil refleksi, tapi hasil FYP.
Budaya yang dulu menumbuhkan jati diri, kini menumbuhkan ego.
Budaya yang dulu menyatukan, kini memisahkan—antara yang “punya kalcer” dan yang tidak.
Antara yang dianggap “nyeni” dan yang disebut “norak”.
Padahal, semua itu cuma permainan persepsi dalam layar enam inci.
“Kalcer” hari ini adalah topeng. Topeng yang kita pakai agar tampak relevan di dunia yang menilai dari jumlah likes.
Dan semakin banyak yang memakainya, semakin cepat budaya kita kehilangan ruhnya.
Mungkin ini saatnya kita bertanya:
Apakah kita benar-benar berbudaya — atau hanya berpura-pura punya kalcer?
Penulis : Abdul Hafidz AR, Pimred ranahriau.com


Komentar Via Facebook :