Muhammadiyah Tantang Era AI: Guru harus lebih Cerdas dari Mesin!

Muhammadiyah Tantang Era AI: Guru harus lebih Cerdas dari Mesin!

Foto: Ist

Bimtek Nasional di Riau Jadi Ajang Lahirnya Pendidik Berkemajuan

PEKANBARU, RANAHRIAU.COM— Ketika sebagian dunia pendidikan masih bingung menghadapi ledakan teknologi kecerdasan buatan (AI), Muhammadiyah justru melangkah lebih jauh.

Melalui Bimbingan Teknis (Bimtek) Pembelajaran Mendalam, Koding, Kecerdasan Artifisial, dan Penguatan Pendidikan Karakter yang digelar Majelis Dikdasmen dan Pendidikan Nonformal (PNF) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, organisasi ini menegaskan: guru harus tetap menjadi pusat pembelajaran—bukan korban dari kemajuan mesin.

Kegiatan nasional yang digelar di Grand Central Hotel Pekanbaru pada 15–19 Oktober 2025 ini diikuti ratusan kepala sekolah, guru, dan fasilitator se-Regional Riau.

Di balik agenda pelatihan, terselip misi besar: menyiapkan guru Muhammadiyah agar tidak hanya bisa menggunakan AI, tapi mampu mengarahkan dan mengendalikannya demi pendidikan yang lebih manusiawi.

AI Bisa Pintar, Tapi Tidak Bisa Reflektif

Ketua PWM Riau Dr. H. Hendri Sayuti, M.Ag. mengingatkan dengan tegas, teknologi tidak bisa menggantikan sentuhan manusia.

“Kita tidak bisa sepenuhnya bergantung pada AI. Teknologi punya keunggulan, tapi tidak punya kemampuan reflektif seperti manusia.

"Di situlah guru tetap menjadi pusat dari pendidikan yang bermakna,” ujarnya di hadapan peserta.

Riau dipercaya menjadi tuan rumah kegiatan nasional ini bukan tanpa alasan. Provinsi ini dinilai siap menjadi laboratorium pembelajaran berbasis inovasi dan spiritualitas.

Bimtek Bukan Sekadar Teknis, Tapi Gerakan Peradaban

Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah, Dr. H. Unang Palmat, M.Ed., menegaskan bahwa Bimtek ini bukan pelatihan biasa.

Para fasilitator telah dibekali dalam program Diksuspala dan menyusun Rencana Kerja Tindak Lanjut (RKTL) agar pembelajaran tidak berhenti di ruang seminar.

“Jika sekolah Muhammadiyah mampu menyesuaikan diri dengan harapan masyarakat, maka kepercayaan publik akan meningkat.

"Kita ingin melahirkan sekolah yang bukan hanya unggul secara akademik, tapi juga kuat dalam karakter,” kata Unang.

Menurutnya, pembelajaran mendalam yang dimaksud bukan sekadar soal metode atau teknologi, tapi menyentuh dimensi spiritual dan moralitas pendidikan.

Muhammadiyah, Magnet Pendidikan Dunia

Dalam sambutannya, Prof. Dr. H. Syafiq A. Mughni, M.A., mewakili Pimpinan Pusat Muhammadiyah, menyampaikan pesan strategis: dunia sedang menatap Muhammadiyah.

“Banyak pihak luar negeri datang ke Muhammadiyah untuk bekerja sama. Mereka melihat bahwa konsep tanwir dan tajdid — pencerahan dan pembaruan — yang diusung Muhammadiyah sangat relevan untuk dunia modern,” ungkapnya.

Prof. Syafiq menegaskan, pendidikan adalah kekuatan yang pelan namun dahsyat.

“Pendidikan memang bergerak perlahan, tapi kekuatannya luar biasa. Ia mampu mengubah arah bangsa,” tegasnya.

Ia juga menegaskan tiga prinsip emas yang wajib dipegang oleh guru Muhammadiyah: niat yang benar, wawasan luas, dan kemampuan teknis yang mumpuni.

Riau Jadi Saksi Lahirnya Gelombang Baru Pendidik Berkemajuan

Kegiatan yang berlangsung selama lima hari itu bukan sekadar agenda formalitas. Ia menjadi titik balik bagi pendidikan Muhammadiyah di era digital.

Para guru belajar menulis kode, memahami logika kecerdasan buatan, hingga merancang strategi pembelajaran berbasis karakter Islami.

Namun yang paling penting, mereka belajar untuk tetap menjadi manusia — reflektif, empatik, dan berorientasi pada kemaslahatan.

Muhammadiyah kembali membuktikan, pendidikan bukan hanya soal teknologi, tapi tentang peradaban.

Editor : RRMedia
Sumber : Rls
Komentar Via Facebook :