Puisi Duritera, karya Rudi Rendra
DURITERA
Oleh: Rudi Rendra
mengapa kita berakhir di sini
engkau tajam ranting malam
aku lembut manis tilam
Kita adalah perbedaan yang direka
seperti hujan yang tak memilih titik luruh
seperti angin yang memeluk lirih cabang kecambah musim kenang
namun putik hanya bertanggal cumbu:
singkat, padat, ejakulasi.
Aku tak pernah takut pada kesunyianmu
pada luka yang kau goreskan
menembus gusar balon waktu
kisah tumpah padang pusar
Kau duri yang menjaga jarak
aku daging yang menyusuri sidikjari
Tapi bukankah itu cara kita
menyimpan sepasang lidah rahasia?
Aku kalam sendawa padamu
seperti langit berbicara pada pohon
tentang angin yang tak pernah menua
tentang rasa sakit yang menjelma manirasa.
Dan kita,
terus bertahan dalam sepotong buah tak terjamah, menanti jika esok ditemukan
mengupas isi biji pulang. Serawa Durian.
Biarkan kita tetap di sini
dalam rumpang bebal benalu
kala duri menyapa daging
tanpa mengenal iri gusi
dan siapa yang paling puting.
Kundur, 3 Oktober 2024
Rudi Rendra. Kelahiran Tanjung Batu Kabupaten Karimun Kepri pada 30 Maret 1991. Baru belajar menulis puisi _di Laman Sastra Anak Cucu Tumpang Lalu_ (DILASATULA). Dapat berteman melalui instagram @rudi.rendra


Komentar Via Facebook :