Pariwisata Berbasis Budaya

Pemprov Riau Terus Kembangkan Potensi

Pemprov Riau Terus Kembangkan Potensi

PEKANBARU, RanahRiau.com - Sebagai Daerah yang memiliki kekayaan alam melimpah ruah. Provinsi Riau menjadi salah satu 'denyut nadi' bagi Negara Indonesia. Hal ini terlihat dari banyaknya sektor penunjang bagi devisa Negara, seperti Migas, Perkebunan, bahkan Industri Pariwisata, betul-betul membuat Provinsi Riau dihadapan Nasional sebagai Negeri Kaya.

Tentu saja kekayaan alam yang dimiliki Provinsi Riau telah meletakkan Negeri Lancang Kuning berada pada deratan puncak sebagai daerah diperhitungkan. Selain memiliki kekayaan alam yang luas, Provinsi Riau juga memiliki peradaban yang besar, baik di masa lalu maupun pada masa kini. Hal ini dapat dibuktikan dari peninggalan sejarah yang ada di Riau.

Candi Muara Takus terletak di Kabupaten Kampar, merupakan peninggalan sejarah Sriwijaya yang membuktikan bahwa kawasan Riau ini sudah menjadi pusat kebudayaan sejak dulu kala. Selain itu, Istana Siak, di Kabupaten Siak, juga membentang peradaban masa lalu masyarakat yang mendiami negeri ini.
 
Dua peninggalan bersejarah ini menjadi saksi bahwa Riau bergeliat sudah sejak lama. Dan kedua bukti sejarah ini mendedahkan peradaban Riau saangatlah tinggi, sehingga dua kerajaan besar bertapak di sini.

Modal besar memiliki peradaban besar inilah yang menguatkan Pemerintah Provinsi Riau menjunjung kebudayaan menjadi ujung tombak pariwisata di Riau. Peradaban masa lalu yang cemerlang dimiliki Riau, sampai saat ini dijadikan pondasi. Hal ini dapat dilihat dari aktivitas kebudayaan yang dilakukan oleh masyarakat Riau.

Salah satunya adalah Pacu Jalur di Kabupaten Kuantan Sengingi. Pacu jalur merupakan refleksi dari kebudayaan kebersamaan dalam mengarungi kehidupan ini. Menjungjung persatuan dan kebersamaan adalah ruh dari kebudayaan Riau.  

Pemerintah Provinsi Riau menyadari hal ini. Untuk itulah, berhadapan dengan era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) pada tahun 2015 ini, Pemrov Riau mencangkan pariwisata di Riau berbasiskan budaya. Di ‘hamparan’ MEA ini diperlukan identitas yang kuat, dan kebudayaan merupakan salah elemen terpenting
 memperkokoh identitas tersebut. Dengan identitas, kecintaan terhadap tanah kelahiran menjadi bertambah kuat.
 
Dengan kenyataan ini, Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rachman pun bahwa pariwisata berbasis buadaya dapat dijadikan terobosan baru mengangkat nama Riau di tengah masyarakat Asean.
 
"Riau sudah terkenal berkat sektor migas dan perkebunan. Kita perlu membuat terobosan baru dalam menghadapi MEA ini," ungkap Arsyadjuliandi Rachman beberapa waktu lalu.

Andi Rachman, sapaan akrab Plt Gubernur Riau ini, Negeri Lancang Kuning sebagai negeri yang menjanjikan akan dikerumuni masyarakat Asean. Puluhan jutaan orang Asean akan berkunjung ke negeri ini. Maka memang selayaknyalah kebudayaan sebagai pondasi suatu negeri harus senantiasa diperkuatkan.

"Kita akan ambil peluang di sektor wisata berbasis budaya. Salah satunya kita punya Istana Siak," ucap Andi Rachman.

Untuk mengangkat pariwisata berbasis budaya ini, bukanlah hal yang mudah. Diperlukan kerja sama yang solid dari berbagai kalangan, baik para pemikir
budaya, akademisi, budayawan, seniman dan masyarakat, sehingga basis ini semakin kuat. Selain itu mempromosikan aktivitas budaya di tanah ini harus genjar dilakukan.

Melihat kenyataan inilah, Pemrov Riau akan melakukan promosi terus menerus. Andi Racman menyadari Riau memiliki potensi besar dalam bidang pariwisata, hanya saja untuk mengangkatnya perlu gencar dilakukan pemasaran. Masih banyak wisata-wisata Riau yang belum dikenal masyarakat luas karena kurangnya promosi.

"Kita harus optimis. Wisata kita tidak kalah dengan negara lainnya. Riau memiliki keunggulan di sektor pariwisata berbasis kebudayaan. Kita hanya perlumemasarkannya," jelas Andi Rachman yakin.

“Kita akan ambil peluang di sektor wisata berbasis budaya. Salah satunya kita punya Istana Siak,” ujar Plt Gubri lagi.

Peringkat 13 di Indonesia

Baru-baru ini Kementrian Pariwisata RI telah melakukan penilaian dan memetakan kekuatan sektori wisata seluruh provinsi di Indonesia. Dari data yang di ekspos Sekretaris Deputi Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara Kementerian Pariwisata RI, Riau menempati posisi ke 13.

Hal tersebut sangatlah wajar, mengingat Provinsi Riau baru saja bangun dari tidurnya dan mulai berbenah untuk memasarkan potensi sektor pariwisata tersebut.

Kini Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau kian gencar mempromosikan pariwisata di Riau Dengan konsep wisata berbasis budaya.

Wisata Ombak Bono
“Kita terus mencari celah dan solusi agar potensi Riau ini terus berkembang dan dikenal,” ungkap Kepala Disparekraf Riau, Fahmizal Usman.

Budaya sebagai Objek Wisata
Kebudayaan masyarakat Riau yang sangat kental dengan ciri khas melayu, akan menjadi terobosan baru sektor pariwisata. Dimana beberapa iven budaya yang telah dilaksanakan dibeberapa kabupaten yang ada di Riau ternyata mampu meningkatkan kunjugan wisatawan baik lokal maupun mancanegara.

Pacu Jalur
 
  
 
Seperti wisata budaya Pacu Jalur yang setiap tahun dilaksanakan oleh masyarakat Kuansing. Budaya lomba pacu jalur yang telah berumur ratusan ini biasanya digelar pada bulan Agustus. Konon pada jaman penjajahan Belanda, pacu jalur diadakan untuk memperingati hari ulang tahun Ratu Belanda, Wilhelmina. Namun saat ini lomba pacu jalur dilaksanakan untuk memeriahkan HUT RI. Event tahunan ini telah menarik minat wisatawan untuk berbondong-bondong mendatangi kabupaten Kuansing.

Ritual Bakar Tongkang
 
  
 
Selain itu kebudayaan yang tak kalah menarik perhatian adalah ritual bakar tongkang. Ketika tradisi ini dilaksanakan, kota Bagansiapiapi akan dipadati komunitas Tionghoa. Perantau sukses yang tersebar di Eropa, Amerika, Australia maupun Asia akan berbondong-bondong pulang untuk mengikuti ritual tersebut.
 
CANDI MUARA TAKUS 
Riau juga memiliki situs budaya Budha, yakni Candi Muara Takus yang terletak di Kabupaten Kampar. Situs ini setiap bulannya dikunjungi 2.500-3.500 orang. Para Bikshu se-dunia sering datang dan melakukan kongres serta ritual agama Budha di Candi Muara Takus. Situs ini menurut sejarah merupakan situs awal Kerajaan Sriwijaya.

Destinasi menarik lainnya yang dimiliki Riau adalah, situs Kerajaan Melayu, Kerajaan Siak Sri Indrapura. Istana yang dirancang arsitek asal Jerman ini dibangun oleh Raja Siak XI pada 1889 dan rampung pada 1893. Luas bangunan sekitar 1.000 meter persegi di tengah lahan seluas 32.000 meter persegi dengan ciri khas Melayu, Eropa, India dan Timur Tengah.

Dan masih banyak lagi potensi pariwisata di Riau yang saat inibelum terekspos secara maksimal, ini membangkitkan optimisme bahwa kedepan, provinsi Riau akan mampu bersaing dengan provinsi lain dalam sektor pariwisata.
 
Riau Optimis

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau mulai gencar mempromosikan pariwisata di Riau Dengan konsep wisata berbasis budaya. Pemprov Riau optimis dengan sangat banyak sekali tujuan wisata Riau berbasis budaya.

Selain itu banyak wisata unik dan purbakala yang ada di Riau. Bahkan wisata Bono yang ada di Teluk Meranti merupakan seven ghosts di dunia yang menjadi tujuan surfing turis asing. Kita optimis pariwisata di Riau yang belum diangkat akan terus kita terus melakukan promosi.

Untuk mendorong usaha-usaha pengembangan sektor wisata yang berpotensi seperti di Riau tentu membutuhkan rincian, keseriusan dan konsep pemerintah daerah Menurut Plt Gubri Andi Rachman sapaan akrab Plt Gubri, Riau memiliki potensi besar dalam bidang pariwisata, hanya saja untuk mengangkatnya perlu gencar dilakukan pemasaran. Masih banyak wisata-wisata Riau yang belum dikenal masyarakat luas karena kurangnya promosi.

"Kita harus optimis. Wisata kita tidak kalah dengan negara lainnya. Riau memiliki keunggulan di sektor pariwisata berbasis kebudayaan. Kita hanya perlu memasarkannya," pungkasnya.(Adv)

Editor : Abdul
Komentar Via Facebook :