Rilis Karya Terbaru Dhama Dove
Novel Fatamorgana & Metamorfosa Sebuah Sastra Untuk Kehidupan
Sukses dengan novel Best Seller berjudul Gita Donya, kini Dhama Dove kembali menyuguhkan novel terbarunya Fatamorgana dan Metamorfosa.
Pekanbaru, RanahRiau.com- Belum lama ini, tepatnya Sabtu (11/8/2018) di Ndalem Joyokusuman Novelis Dhama Dove merilis Karya sastranya dengan menghadirkan dua buah Novel berjudul Fatamorgana dan Metamorfosa.
(Keterangan Foto : Suasana Bedah Novel Fatamorgana dan Metamorfosa)
Peluncuran karya sekaligus bedah novel itu dihadiri oleh berbagai kalangan, Mulai dari pengamat sastra, Akademisi, Mahasiswa dan juga Masyarakat Umum, Bahkan Guru Besar Sastra dari UNY Prof.DR.Suminto, A.Sayuti, Budayawan Iman Budhi Santosa serta Novelis DR.Aguk Irawan MN menjadi panelis untuk membedah isi dan makna yang terkandung dalam Novel Besutan Dhama Dove tersebut.
Ditemui Pewarta RanahRiau.com, Sang Novelis, Dhama Dove menceritakan hal ikhwal karya sastra terbarunya itu ditulis.
Menurutnya, Sebuah karya sastra itu tidak bisa dibuat secara konseptual dan terjadwal dengan sebuah rencana kerja yang terarah.
Namun sebaliknya, Kata dia, proses pembuatan novel Fatamorgana dan Metamorfosa adalah cerminan pemikiran dengan kaidah estetika dan dialektika kehidupan yang tidak bisa dipaksakan, Artinya mengalir dan bergulir hingga menemukan titik temu.
"Saya tidak pernah membikin outline, namun bagi saya, karya itu harus berdasarkan inspirasi dan mengalir saja hingga membuat sebuah tulisan dengan sebuah cerita yang akan tercipta suatu benang merahnya, Bahkan untuk judulnya pun muncul pada akhir tulisan selesai, ya jadi saya fokus untuk menulis saja." Paparnya, Jumat (24/8/2018) Di Pekanbaru.
(Keterangan Foto : Dhama Dove (kiri kedua) Bersama Keluarga)
Penulis Novel Semburat Jingga Hijau, Senandung Noktah, Gema Melantun dan Gita Donya inipun menerangkan lagi, pada prinsipnya, karya sastra yang tertulis dalam Fatamorgana dan Metamorfosa itu terinspirasi dari kehidupan sehari-hari dan muncul dengan sendirinya.
"Imajinasi novel metamorfosa dan fatamorgana adalah novel yang muncul dari ide yang datang dengan sendirinya," Imbuhnya.
Perbincanganpun semakin menarik, dan Ketika Pewarta RanahRiau.com menanyakan Plot dari cerita yang disampaikan pada kedua novel tersebut, Dhama Dove pun menjawab, jika sudah membaca kedua novel itu, dirasakan isinya saling berkaitan atau dwitunggal.
Sebab, Kata dia, Tokoh dan karakter serta pesan yang termaktub dalam Novel Fatamorgana dan Metamorfosa adalah saling mengisi, yang tentunya menggambarkan suatu yang nyata dengan bayangannya saling mengiring namun tetap berpegang teguh pada ketentuan dan ketetapan sang pencipta.
"Novel Ini dwi tunggal, mempunyai karakter yang tidak sama, dan dibaca judul manapun dapat saling mengisi mengenai sebuah sensasi dan petualangan hidup. Sementara Pesan dalam novel itu tentang sesuatu yang nyata dengan bayangannya, artinya keduanya saling mengiringi dan pada penghujung jalan nanti adalah sebuah takdir ketentuan dari Gusti Alloh," Sebutnya.
Sementara itu, Untuk bisa memahami dan menikmati cerita Novel Fatamorgana dan Metamorfosa, Sang Novelis menyarankan usia pembaca harus diatas tujuh belas tahun.
"siapapun bisa baca, dan dari segi umur adalah 17 tahun keatas karena dari sisi linguistik, novel ini memiliki tatanan bahasa yang mudah di pahami dan bisa di nikmati oleh para pembaca, karena tidak ada unsur secara spesifik percintaan dengan pandangan dewasa, namun universal mengenai arti sebuah cinta dan kehidupan, karena Isi novel ini lebih banyak mengandung unsur filosofi, dan mengajarkan adab serta nilai kebaikan untuk tatanan kehidupan sesama manusia," Sambung ia.
Terlepas dari isi Novel, saat disinggung tentang target penjualan, dirinya mengatakan, Sebuah kesusastraan itu adalah kebebasan apresiasi dan ekspresi serta anugerah yang dimiliki manusia dari sang pencipta untuk menulis dalam karya sastra tanpa harus memikirkan Profit (Keuntungan).
"Nulis novel bagi saya bukan berpikir untuk mencari profit, namun lebih pada kesadaran dan anugerah yang diberikan Alloh untuk menulis dalam karya sastra," Tukasnya.
Diakhir, dirinya menandaskan, "Hidup adalah sastra, dan sastra itu memiliki harmonisasi bagi kehidupan manusia, apabila tidak memiliki rasa, maka akan menjadi absurd dalam pergaulan." Tutupnya.
Sebagai tambahan, Dhama Dove lahir di kota kecil nan sejuk banjarnegara 1976. Mengenyam pendidikan di D3 ABA Yogyakarta S1 di Universitas Nasional Jakarta. S2 di Sanata Darma . Sempat mengajar di Universitas Teknologi Yogyakarta meski hanya dua tahun karena harus ikut suaminya pindah ke Provinsi Riau.
Membaca dan traveling menulis dan melakukan yoga adalah hobi yang dijalaninya penuh cinta, karena menurutnya semua itu merupakan pembelajaran menjalani sekaligus cara menikmati hidup.
Reporter : Faisyal


Komentar Via Facebook :