Mengenang Bapak Tionghoa Indonesia
Imlek sebagai momentum Refleksi Kebangsaan
RanahRiau.com- momentum Imlek tidak hanya menjadi peristiwa penting bagi orang Tionghoa, namun telah menjadi bagian dari peristiwa lintas etnis. tahun baru Imlek 2569 ini menjadi momentum refleksi kebangsaan, ditengah kontestasi politik, konspirasi antar elit. Imlek menjadi media komunikasi antar etnis, budaya dan agama. di Indonesia, Imlek tidak hanya dirayakan orang Tionghoa dalam tradisi Konghucu semata, namun sudah menjadi bagian dari tradisi komunal yang mempertemukan ragam budaya, dari sana pual bis akita saksikan narasi panjang historiografi Nusantara.
Perayaan Tahun Baru Imlek bagi etnis Tionghoa tak bisa lepas dari peran sosok Presiden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Seorang ulama "nyentrik" yang memiliki pemikiran pluralis inilah yang pertama menyudahi diskriminasi terhadap kelompok Tionghoa selama bertahun-tahun di Tanah Air. Selain karena kebijakannya yang menyudahi diskriminasi terhadap etnis Tionghoa, Gus Dur juga sempat membuat geger. Gara-garanya, pria yang merupakan cucu dari ulama besar NU, Hasyim As'ari, ini mengaku keturunan Tionghoa.Siapa yang tak kenal dengan Gus Dur? Sapaan akrab untuk Kiai Haji Abdurrahman Wahid berciri khas pakaian sederhana, peci dan sarung. Tentu kita semua mengenalnya. Ya, dibalik sosok beliau yang sederhana beliau adalah seorang tokoh Muslim dan cendekiawan Indonesia sekaligus pemimpin politik yang menjadi Presiden Indonesia keempat dari tahun 1999 hingga 2001 menggantikan Presiden B. J. Habibie setelah dipilih oleh MPR hasil Pemilu 1999.
Gus Dur lahir di Jombang, Jawa Timur pada tangggal 7 September 1940. Beliau meninggal pada tanggal 30 Desember 2009 di usia 69 tahun. Siapa sangka, nama asli Gus Dur sebenarnya bukanlah nama panjang yang seperti kebanyakan orang tahu yakni Abdurrahman Wahid. Gus Dur lahir dengan nama Abdurrahman Addakhil. "Addakhil" sendiri berarti "Sang Penakluk". Namun, nama "Addakhil" ini tidak cukup dikenal oleh kebanyakan orang karena itu kemudian diganti dengan nama "Wahid", dan kemudian beliau lebih dikenal dengan panggilan Gus Dur. Mengapa sapaan beliau menjadi Gus Dur? Karena "Gus" sendiri adalah panggilan kehormatan khas pesantren di Jawa kepada seorang anak kiai, yang memiliki arti sama dengan abang atau mas (red:Jawa).
Gus Dur adalah putra dari seorang tokoh Muslim Indonesia, K.H. Wahid Hasyim terlibat juga dalam gerakan Nasionalis dan kemudian menjadi Menteri Agama pada tahun 1949. Ibunya adalah Ny. Hj. Sholehah, beliau adalah putri pendiri Pondok Pesantren Denanyar Jombang. Meski berlatar belakang pesantren, oleh ayahnya, Gus Dur tak hanya diajarkan tentang ilmu agama, melainkan juga diajarkan membaca buku non-Muslim, majalah, dan koran untuk memperluas pengetahuannya. Selain itu, kemampuan tulis menulis yang beliau miliki, membawa beliau kepada pekerjaan pertamanya yakni menjadi seorang jurnalis di beberapa majalah seperti Horizon dan Majalah Budaya Jaya.
Di bidang agama, Gus Dur dikenal sebagai sosok pemimpin Nahdlaul Ulama. Meneruskan latar belakang keluarganya dalam NU, oleh keluarga besarnya diminta untuk berperan aktif dalam menjalankan organisasi NU. Permintaan ini berlawanan dengan keinginan Gus Dur untuk menjadi seorang intelektual publik. Beliau dua kali menolak tawaran bergabung dengan Dewan Penasehat Agama NU. Namun, Gus Dur akhirnya menerima tawaran bergabung dengan Dewan tersebut setelah kakeknya, Bisri Syansuri, memberinya tawaran ketiga. Karena mengambil pekerjaan ini, Gus Dur kemudian memilih pindah dari Jombang ke Jakarta dan menetap di sana.
Makin lama, karir beliau semakin melonjak hingga beliau terpilih menjadi Presiden RI ke-4 yang pada saat itu menggantikan posisi Presiden B.J Habibie. Kepemimpinan Gus Dur pun mendapat banyak dukungan dari berbagai pihak. Tak hanya dukungan dari golongan Muslim, Gus Dur juga mendapat dukungan dari masyarakat Tionghoa karena pada bulan Januari 2001, Gus Dur mengumumkan bahwa Tahun Baru Cina (Imlek) menjadi hari libur nasional. Tindakan ini diikuti dengan pencabutan larangan penggunaan huruf Tionghoa. Kebijakan Gus Dur ini didasari karena beliau menyatakan bahwa beliau juga merupakan keturunan Tionghoa. Gus Dur secara terbuka pernah menyatakan bahwa ia memiliki darah Tionghoa. Gus Dur mengaku bahwa ia adalah keturunan dari Tan Kim Han yang menikah dengan Tan A Lok, saudara kandung Raden Patah (Tan Eng Hwa), pendiri Kesultanan Demak. Kemudian, Gus Dur dinobatkan sebagai "Bapak Tionghoa" oleh beberapa tokoh Tionghoa Semarang di Kelenteng Tay Kak Sie, Gang Lombok, yang selama ini dikenal sebagai kawasan Pecinan pada tanggal 10 Maret 2004.
"Saya ini China tulen sebenarnya, tetapi ya sudah nyampurlah dengan Arab, India," ungkap Gus Dur, seperti diberitakan Kompas.com pada 30 Januari 2008 silam. Pengakuan Gus Dur soal garis keturunannya itu bukan sekali saja diutarakannya. Namun yang pasti, pengakuan tersebut sempat membuat geger kala itu. Berdasarkan cerita Gus Dur, dia merupakan keturunan dari Putri Cempa yang menjadi selir dengan raja di Indonesia. Dari situ, Putri Cempa memiliki dua anak, yakni Tan Eng Hwan dan Tan A Hok. Tan Eng Hwan kelak dikenal sebagai Raden Patah, sementara Tan A Hok adalah seorang mantan jenderal yang sempat menjadi duta besar di China.
Dari garis Raden Patah itulah kemudian Gus Dur mengaku mendapatkan keturunan Tionghoa-nya. Pengakuan Gus Dur ini juga sempat dikuatkan oleh tokoh NU lainnya, Said Aqil Siradj, pada tahun 1998, seperti yang dituliskan dalam buku Gus Dur Bapak Tionghoa Indonesia. Kala itu, pada tahun 1998, Said Aqil menceritakan bahwa Tan Kim Han memiliki anak bernama Raden Rachmat Sunan Ampel dan menurunkan KH Hasyim As'ari yang selanjutnya menurunkan KH Wahid Hasyim dan punya anak bernama Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. "Jadi, Gus Dur itu Tionghoa, maka matanya sipit," ujarnya sambil tersenyum. "Dengan demikian, tidak ada istilah pro dan nonpro serta Muslim dan non-Muslim," ungkap Said Aqil waktu itu.
Terlepas dari garis keturunan Tionghoa yang dimiliki Gus Dur itu, etnis Tionghoa yang sudah berabad-abad ada di Indonesia tetap menganggap Gus Dur adalah salah satu tokoh yang layak mendapat penghargaan. Berdasarkan kebijakan-kebijakan yang dibuar Gus Dur itulah, etnis Tionghoa hingga para penganut Khonghucu tidak lagi menyembunyikan simbol mereka, sesuatu yang terlarang pada era Orde Baru. Tidak heran, pada 10 Maret 2004, di Kelenteng Tay Kek Sie, Gus Dur dinobatkan sebagai "Bapak Tionghoa Indonesia". Gus Dur hadir dalam penobatan itu dengan pakaian lengkap menggunakan baju cheongsam, meski harus duduk di kursi roda. Selepas kepergian Gus Dur pada 30 Desember 2009 silam, makamnya terus didatangi warga Tionghoa yang mendoakannya hingga kini.
Melalui Keputusan Presiden Nomor 6 Tahun 2000, Gus Dur ketika itu mencabut instruksi Presiden Soeharto pada tahun 1967 yang membatasi gerak kelompok Tionghoa. Di dalam peraturan itu, kelompok Tionghoa tidak diperkenankan melakukan tradisi atau kegiatan peribadatan secara mencolok, dan hanya dibolehkan di lingkungan keluarga. Alasannya, ketika itu, Soeharto menganggap aktivitas warga Tionghoa telah menghambat proses asimilasi dengan penduduk pribumi.
Alhasil, perayaan Tahun Baru Imlek pun tidak dilakukan terbuka selama masa Orde Baru. Pada Masa Orde Baru pula, semua warga keturunan Tionghoa diwajibkan untuk mengubah nama Tionghoa-nya ke bahasa Indonesia.
dari sepak terjang Gus Dur inilah, pada 10 Maret 2004, orang-orang Tionghoa di klenteng Tay Kek Sie Semarang, menahbiskan belia sebagai "Bapak Tionghoa Indonesia". Penobatan Gus Dur sebagai Bapak tionghoa Indonesia dapat diteropong dari empat sudut pandang, perjuangan Gus Dur dari sisi kewarganengaraan kelompok keturunan Tionghoa, keteladanan Gus Dur dalam memperlakukan keolompok keturunan Tionghoa, serta sisi pelengkap yang masih berupa kontroversi, yaitu pengakuan Gus Dur sebagai keturunan Tiong Hoa dari Marga Tan.
Begitu menjabat sebagai Presiden, Gus Dur tidak sepakat dengan pemikiran Soeharto ketika itu.
Dia meyakini bahwa warga Tionghoa sebelumnya dibedakan dari warga negara Indonesia sehingga mereka berhak mendapatkan hak yang sama, termasuk menjalani keyakinannya.
Pada tahun 2000 itu, Gus Dur menetapkan bahwa hari raya Tahun Baru Imlek adalah hari libur yang fluktuatif. Artinya, hanya mereka yang merayakan yang boleh libur. Kebijakan itu kemudian dilanjutkan Presiden Megawati Soekanorputri yang menetapkan hari raya tersebut sebagai hari libur nasional pada tahun 2003. Gus Dur pun menganggap Muslim Tionghoa boleh merayakan Tahun Baru Imlek sehingga tidak dianggap sebagai tindakan musyrik. Bagi dia, perayaan ini adalah bagian dari tradisi budaya, bukan agama, sehingga sama seperti tradisi lainnya yang dilakukan di Jawa.
perayaan imlek kali ini mejadi momen untuk merenungkan perjuangan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), ketika situasi politik, hukum, agama dan budaya yang terus digerus oleh kepentingan primordial atau kerakusan elit di pangggung kuasa, kiprah Gus Dur menjadi perenungan bersama. Gus Dur dalam hal ini tak hanya direnungi sebagai pribadi dengan segala kontroversi, namun ia menjadi monumen sejarah dalam spektrum kebangsaan dan keindonesiaan.
apa yang dilakukan Gus Dur ini tidak hanya semata karena sentimen etnis, kebijakan Gus Dur melalpaui sektor etnisitas maupun agama. teks-teks yang lahir dari renungan Gus Dur menjadi bahan renungan untuk warga indonesia lintas etnis dan geografis. teks Gus Dur melampaui zamannya, hingga terus menjadi referensi bagii pembaca. pesan-pesan kemanusiaan Gus Dur inilah yang perlu dibaca ulang dengan konteks kekinian, ditengah politik tanpa visi dan pemimpin yang hanya obral janji.
Begitulah sosok seorang Gus Dur yang seringkali juga menciptakan berbagai kontroversi dari setiap kebijakan yang beliau ambil. Namun, perjalanan hidup tak selalu mulus. Masa kepemimpinan Gus Dur berakhir pada Sidang Istimewa MPR pada tahun 2001. Tepat pada tanggal 23 Juli 2001, kepemimpinannya digantikan oleh Megawati Soekarnoputri setelah mandatnya dicabut oleh MPR.
Penulis, Abdul
Hafidz AR, S.IP, Hamba Allah SWT, Pengamat Sosial, Alumni Jurusan
Hubungan Internasional FISIP Universitas Riau, Wartawan RanahRiau.com
Berdomisili di Pekanbaru
kritik dan saran bisa disampaikan ke :putramelayu.enterprise@gmail.com
085263905088


Komentar Via Facebook :