Diterpa Kemarau, Produktivitas Pangan di Riau tetap Stabil
Pekanbaru, RanahRiau.com- Fenomena perubahan iklim global kini menyebabkan terjadinya musim
kemarau panjang di berbagai daerah dan kondisi ini memberikan berbagai
dampak, namun bagi pertanian di Provinsi Riau justru tidak berpengaruh.
"Terbukti
bahwa produktivitas padi, jagung, dan kedelai di Provinsi Riau justru
mengalami peningkatan setiap tahun," kata Kepala Bidang Tanaman Pangan,
Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Riau Ir.
Gusriani di Pekanbaru, Minggu.
Ia mengatakan
itu terkait kondisi kekeringan telah melanda sejumlah daerah khususnya
di Pulau Jawa dan Nusa Tenggara, serta sejumlah wilayah lainnya yang
diyakini akan berdampak terhadap produktivitas pangan, karena
terganggunya saluran irigasi pertanian, kondisi kekurangan air bersih
dan upaya mengatasi ketersediaan air bersih bagi warga.
Menurut
dia, produktivitas tanaman pangan di daerah ini dalam beberapa tahun
terakhir memang mengalami fluktuasi, namun cenderung mengalami
peningkatan setiap tahunnya.
Ia menjelaskan
sejumlah perkembangan produktivitas tanaman pangan dalam lima tahun
terakhir yakni pada tahun 2012 produktivitas tanaman padi mencapai
35,56 kuwintal/hektare, jagung 23,66 kw/ha, kedelai 11,35 Kw/Ha.
Pada
tahun 2013 untuk jenis tanaman padi sebanyak 36,63 Kw/Ha, jagung
23,88 Kw/Ha dan kedelai 11,34 Kw/ha. Tahun 2014 untuk jenis tanaman
padi 36,35 Kw/Ha, jagung 23,76 Kw/Ha, dan kedelai 11,34 Kw/Ha.
Berikutnya
produktivitas tahun 2015 untuk jenis tanaman padi 36,63 Kw/Ha, jagung
23,85 Kw/Ha, dan kedelai 11,15 Kw/Ha, sedangkan pada tahun 2016 untuk
jenis tanaman padi mencapai 37,57 Kw/Ha, jagung 24,88 Kw/Ha, dan
kedelai 12,02 Kw/Ha.
Gusriani mengatakan, dalam
mengantisipasi dampak kemarau panjang maka beberapa upaya yang
dilakukan oleh Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Provinsi
Riau, adalah melakukan mitigasi iklim, memetakan wilayah berpotensi
kekeringan dan potensi sumber air irigasi, memperbaiki bangunan dan
jaringan irigasi yang rusak.
Selain itu
memanfaatkan sumber daya air lain seperti sungai dan danau, memberikan
bantuan alat dan mesin pertanian seperti hand traktor dan pompa air.
Hand traktor diberikan agar petani dapat melakukan percepatan tanam dan
dilaksaknakan secara serentak. Sedangkan pompa air diberikan untuk
menaikkan air dari sungai, danau atau sumur dan dialirkan ke lahan
petani.
"Dalam mengantisipasi dampak kekeringan
Riau juga menertibkan pola tanam dan mengatur jadwal tanam,
menganjurkan petani menggunakan varietas unggul yang toleran terhadap
kekeringan, menggerakkan dan mengaktifkan P3A dan GP3A," katanya.
Ia
menjelaskan air merupakan sumber kehidupan bagi seluruh mahluk hidup di
bumi ini khususnya tanaman pangan. Selama periode pertumbuhannya,
tanaman pangan memerlukan air agar dapat bertahan hidup dan
berproduksi. pemberian air yang mencukupi merupakan faktor penting bagi
pertumbuhan tanaman. Demikian pula halnya dengan usaha meningkatkan
produktivitas, tanpa air yang cukup produktivitas tidak akan maksimal.
Salah satu upaya untuk menjamin
ketersediaan air pada saat dibutuhkan oleh tanaman maka diperlukan
pengaturan yang terintegrasi melalui irigasi dan jaringannya.
Pembangunan,
pengembangan, dan pemeliharaan irigasi untuk kegiatan pertanian
merupakan hal mutlak karena ketiadaan atau kerusakan irigasi merupakan
"lonceng kematian" bagi swasembada pangan atau kedaulatan pangan yang
sedang kita upayakan.
Dalam rangka upaya
khusus peningkatan produksi padi, salah satu program yang
dilaksanakan oleh Pemerintah Provinsi Riau (Dinas Tanaman Pangan
Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Riau) yaitu pengembangan
jaringan irigasi.
"Pengelolaan air irigasi
dari hulu (upstream) sampai dengan hilir (downstream) memerlukan sarana
dan prasarana irigasi yang memadai. Sarana dan prasarana tersebut dapat
berupa bendungan, saluran primer dan sekunder, boks pembagi,
bangunan-bangunan ukur, saluran tersier dan jaringan tingkat usaha tani
(JITUT)," katanya.
Sementara itu, perubahan
iklim global saat ini menyebabkan terjadinya musim kemarau panjang di
berbagai daerah, kondisi ini memberikan berbagai dampak. Beberapa dampak
yang ditimbulkan oleh kemarau panjang ini antara lain, yaitu
kebakaran lahan pertanian, ketersediaan air menipis, musim tanam
berubah, tanaman mati (puso), dan produktivitas.


Komentar Via Facebook :