Logika yang Hilang di Tengah Kabut Asap Kuansing

Logika yang Hilang di Tengah Kabut Asap Kuansing

Oleh: Eki Maidedi - Lubukjambi, 09 Oktober 2026

RANAHRIAU.COM - Sekolah-sekolah diliburkan. Bahkan masa liburnya diperpanjang. Warga diimbau untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan karena kabut asap telah membuat kualitas udara Kuantan Singingi berada di level sangat tidak sehat.

Namun di sisi lain, pemerintah daerah justru mengimbau masyarakat untuk berbondong-bondong menghadiri Festival Pacu Jalur Mini di Venue Dayung Kebun Nopi, Desa Bukit Pedusunan, demi memeriahkan Hari Jadi Kabupaten Kuantan Singingi ke-27.

Tidak hanya Pacu Jalur Mini, Pemda juga menggelar berbagai kegiatan seremonial lain di ruang terbuka, seperti jalan santai dan senam bersama.

Lalu logikanya di mana?

Inilah potret buram kebijakan pemerintah daerah kita di Kuansing hari ini. Satu pintu ditutup rapat atas nama kesehatan, seribu pintu lain dibuka lebar-lebar atas nama perayaan.

Jika standar keselamatannya adalah kesehatan publik, maka semua kegiatan yang mengundang kerumunan di ruang terbuka seharusnya ditunda, tanpa terkecuali. Bukan justru diperbanyak.

Apakah paru-paru pejabat kebal terhadap asap? Apakah virus ISPA hanya menyerang pada jam sekolah dan akan libur saat festival dimulai?

Perayaan hari jadi adalah penting, tetapi kesehatan rakyat jauh lebih penting. Tapi, penulis menilai ini bukan lagi sekadar soal kemeriahan HUT. Ini adalah kegagalan nalar dan krisis empati.

Festival masih bisa ditunda. Acara seremonial bisa dijadwalkan ulang. Tapi paru-paru rakyat yang rusak hari ini tidak bisa diganti dengan piala, kemudian doorprize kipas angin dan spanduk ucapan selamat.

Kepada Plt Bupati Kuansing, Mukhlisin, Selaku putra daerah Kuansing penulis berpesan, jangan jadikan HUT ke-27 ini sebagai monumen kebodohan kebijakan. Jangan pernah merayakan hari jadi daerah di atas penderitaan napas rakyatmu sendiri.

Editor : Eki Maidedi
Sumber : Opini penulis
Komentar Via Facebook :