34 Tahun Suaranya Menghidupkan Pacu Jalur, Kini DT Darwis Dihina - Kuansing Terluka

34 Tahun Suaranya Menghidupkan Pacu Jalur, Kini DT Darwis Dihina - Kuansing Terluka

Dt. Darwis Didampingi Kuasa Hukum

KUANSING, RANAHRIAU.COM - Ada yang dikenal karena jabatan. Ada yang diingat karena kuasa. Tapi bagi masyarakat Kuantan Singingi, ada satu nama yang melekat di hati karena suaranya, yakni DT Darwis.

Selama 34 tahun, sejak 1992 hingga hari ini, suaranya tak pernah absen dari Tepian Narosa. Generasi berganti, zaman berubah, Pacu Jalur berevolusi dari pesta rakyat menjadi kebanggaan nasional bahkan mendunia. Namun satu hal tetap sama, yaitu suara DT Darwis yang membakar tepian.

Suara yang meneriakkan nama-nama jalur dengan penuh semangat. Suara yang menghidupkan riuh tepian. Suara yang mengiringi tawa kemenangan dan getir kekalahan. Bagi perantau Kuansing, suaranya bahkan adalah obat rindu kampung halaman.

Karena itu, ketika DT Darwis diduga menjadi korban penghinaan, yang terluka bukan hanya pribadinya. Masyarakat Kuansing ikut terluka.

34 tahun bukan waktu singkat. Anak-anak yang dulu digendong ayahnya ke tepian untuk mendengar suara DT Darwis, kini telah menjadi bapak-bapak yang kembali membawa anaknya ke tepian yang sama, untuk mendengar suara yang sama.

Di titik itulah DT Darwis melampaui profesinya sebagai komentator. Ia telah menjadi bagian dari ingatan kolektif Pacu Jalur.

Pacu Jalur memang milik seluruh masyarakat Kuantan Singingi, bukan milik satu orang. Namun dalam perjalanan panjangnya, selalu ada orang-orang yang mengabdikan hidupnya untuk menjaganya. DT Darwis adalah salah satunya.

Sejarah tidak dibangun dalam semalam. Pengabdian 34 tahun tidak bisa dihapus oleh satu gelombang komentar di media sosial.

Menanggapi gejolak di media sosial, Tim Kuasa Hukum DT Darwis meminta masyarakat untuk menahan diri.

"Kami memahami kekecewaan masyarakat. Namun kami meminta satu hal: jangan jadikan rasa cinta kepada DT Darwis sebagai alasan untuk membenci siapa pun," ujar Ketua Tim Kuasa Hukum DT Darwis, Ikhsan, S.H., M.H., CLA., CPM.

Ia menegaskan, persoalan ini tidak boleh diseret menjadi konflik SARA.

"Jangan membawa persoalan ini menjadi Batak melawan Melayu. Jangan menyeret Sumatera Utara berhadapan dengan Kuantan Singingi. Jangan pula menjadikan agama, suku ataupun budaya sebagai bahan untuk saling menyerang. Persoalan ini adalah persoalan antarindividu yang sedang diuji melalui mekanisme hukum. Masyarakat Batak adalah saudara kita. Masyarakat Sumatera Utara adalah saudara kita," tegasnya.

Ikhsan memastikan, pihaknya telah memilih jalur yang paling bermartabat, yakni menempuh jalur hukum.

"Langkah hukum yang ditempuh DT Darwis bukanlah ajakan untuk pembalasan. Ketika seseorang merasa kehormatannya dilanggar, negara menyediakan jalan yang jauh lebih bermartabat daripada saling memaki di media sosial," katanya.

"Kami tidak meminta masyarakat menghukum siapa pun melalui media sosial. Kami datang kepada kepolisian membawa bukti, bukan membawa kemarahan. Biarkan rekaman diperiksa, konteks diuji, saksi didengar, dan biarkan hukum menentukan hasil akhirnya."

Ia juga meminta publik untuk tidak menghakimi sebelum proses hukum selesai. Kelak, perkara ini akan selesai. Berita akan berganti. Trending akan hilang. Algoritma akan menemukan cerita viral yang baru.

Tapi ada yang jauh lebih panjang dari umur sebuah viralitas pengabdian. Sejak 1992, dari satu Pacu Jalur ke Pacu Jalur berikutnya, suara itu terus menemani Tepian Narosa. 34 tahun kemudian, suara itu masih ada.

"Jaga DT Darwis dengan doa. Jaga Pacu Jalur dengan marwah. Jaga Kuantan Singingi dengan persaudaraan," tutup Ikhsan.

Karena pada akhirnya, DT Darwis bukan hanya laki-laki yang berdiri memegang mikrofon di tepian Sungai Kuantan.

Bagi banyak orang, suaranya telah menjadi suara Pacu Jalur itu sendiri. Dan selama Sungai Kuantan masih mengalir, selama dentuman meriam masih membuka perlombaan, pengabdian itu akan tetap menjadi bagian dari cerita Kuantan Singingi.

Editor : Eki Maidedi
Komentar Via Facebook :