Saat Bundo Kanduang Tak Lagi Menjadi Panutan
Ketua Lembaga Anti Narkotika (LAN) Provinsi Sumatera Barat. Ketua Forum Komunikasi Anak Nagari (FKAN) Sumatera Barat
Oleh : Firman Sikumbang.
Limpapeh Rumah Nan Gadang merupakan gelar kehormatan yang diberikan kepada perempuan Minangkabau. Secara filosofis, istilah ini berarti tiang besar penyangga rumah yang megah. Gelar tersebut menggambarkan peran perempuan atau Bundo Kanduang sebagai pusat kekuatan keluarga, penjaga moral, pelindung warisan adat, serta pendidik generasi penerus yang memastikan kehidupan kaum tetap berjalan harmonis.
Dalam perjalanan sejarah Minangkabau, Bundo Kanduang selalu ditempatkan pada posisi yang mulia. Mereka bukan hanya ibu bagi anak-anaknya, tetapi juga penjaga marwah kaum, sumber kebijaksanaan, dan teladan dalam kehidupan bermasyarakat. Dari tangan merekalah lahir generasi yang memahami adat, menjunjung tinggi agama, menghormati orang tua, serta memiliki rasa tanggung jawab terhadap keluarga dan nagarinya.
Namun, seiring perkembangan zaman dan derasnya arus globalisasi, peran tersebut menghadapi tantangan yang semakin berat. Perubahan pola hidup, perkembangan teknologi, serta masuknya berbagai budaya luar telah mempengaruhi cara pandang sebagian masyarakat terhadap makna dan fungsi Bundo Kanduang dalam kehidupan sosial.
Ketua Lembaga Anti Narkotika (LAN) Provinsi Sumatera Barat sekaligus Ketua Forum Anak Nagari (FAN) Sumatera Barat, Firman Sikumbang, mengatakan bahwa saat ini peran sebagian Bundo Kanduang tidak lagi sepenuhnya menjadi cerminan dari filosofi Limpapeh Rumah Nan Gadang sebagaimana yang diwariskan oleh para leluhur Minangkabau.
Menurutnya, fenomena yang terlihat di tengah masyarakat menunjukkan adanya pergeseran orientasi dari sebagian kelompok perempuan yang tergabung dalam organisasi sosial, adat, maupun budaya. Kegiatan yang semestinya berorientasi pada pembinaan keluarga, pendidikan generasi muda, pelestarian adat, dan pemberdayaan masyarakat, dalam beberapa kasus justru lebih banyak di isi dengan kegiatan yang bersifat hiburan dan euforia.
"Saat ini kita lebih sering melihat berbagai aktivitas yang dilaksanakan di kafe-kafe maupun tempat karaoke. Bahkan ada organisasi yang mengatasnamakan adat dan budaya, tetapi lebih banyak menghabiskan waktunya dalam kegiatan hiburan, perlombaan karaoke, dan aktivitas seremonial lainnya. Padahal tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini jauh lebih besar dan membutuhkan perhatian serius dari seluruh elemen masyarakat, termasuk Bundo Kanduang," ujar Firman Sikumbang.
Ia menegaskan bahwa pandangan tersebut tidak ditujukan kepada seluruh Bundo Kanduang. Masih banyak perempuan Minangkabau yang tetap konsisten menjalankan perannya sebagai pendidik keluarga, penggerak kegiatan sosial, pelestari adat dan budaya, serta pembimbing generasi muda di berbagai nagari di Sumatera Barat. Namun fenomena yang terjadi di ruang publik perlu menjadi perhatian bersama agar tidak mengaburkan makna luhur yang terkandung dalam filosofi Bundo Kanduang.
Menurut Firman, ketika kegiatan hiburan lebih dominan dibandingkan kegiatan pembinaan masyarakat, maka perlahan-lahan citra Bundo Kanduang sebagai panutan akan mengalami pergeseran. Masyarakat tidak lagi melihat sosok perempuan Minangkabau sebagai pusat keteladanan, melainkan hanya sebagai bagian dari kegiatan-kegiatan seremonial yang kurang memberikan dampak nyata terhadap kehidupan sosial.
Padahal saat ini masyarakat sedang menghadapi berbagai persoalan serius. Penyalahgunaan narkoba terus mengancam generasi muda. Pergaulan bebas, kenakalan remaja, kecanduan media sosial, perjudian daring, serta berbagai bentuk penyimpangan sosial lainnya semakin mengkhawatirkan. Dalam kondisi seperti ini, keluarga membutuhkan figur perempuan yang mampu menjadi benteng moral dan sumber pendidikan karakter bagi anak-anak.
Firman menilai bahwa melemahnya peran Bundo Kanduang akan berdampak langsung terhadap kualitas generasi penerus. Ketika rumah tangga tidak lagi menjadi pusat pendidikan moral, maka berbagai persoalan sosial akan lebih mudah berkembang di tengah masyarakat. Karena itu, peran perempuan sebagai pendidik pertama dan utama dalam keluarga harus kembali diperkuat.
Ungkapan adat Minangkabau yang berbunyi, "Peranan Bundo Kanduang lah diasak dek urang lalu", menurut Firman, menjadi refleksi yang patut direnungkan bersama. Ungkapan tersebut menggambarkan kegelisahan masyarakat terhadap semakin berkurangnya ruang dan pengaruh Bundo Kanduang dalam membimbing kehidupan sosial dan adat di tengah masyarakat.
Ia menambahkan bahwa organisasi-organisasi perempuan berbasis adat hendaknya lebih banyak menghadirkan program-program yang menyentuh kebutuhan masyarakat secara langsung. Pembinaan keluarga, pendidikan karakter generasi muda, pelestarian budaya, pemberdayaan ekonomi perempuan, serta pencegahan penyalahgunaan narkoba seharusnya menjadi agenda utama yang diperjuangkan.
"Minangkabau tidak akan kehilangan jati dirinya selama Bundo Kanduang tetap berdiri sebagai Limpapeh Rumah Nan Gadang. Mereka harus kembali menjadi teladan, penjaga adat, penjaga moral, dan penggerak perubahan sosial yang positif. Modernitas boleh berkembang, tetapi jangan sampai menghilangkan identitas dan tanggung jawab yang telah diwariskan oleh para leluhur," tegas Firman Sikumbang.
Bundo Kanduang adalah simbol kehormatan masyarakat Minangkabau. Ketika mereka kuat dalam akhlak, bijaksana dalam bertindak, dan aktif dalam membina keluarga serta masyarakat, maka keluarga akan kokoh, kaum akan terjaga, dan nagari akan bermartabat. Sebaliknya, apabila peran tersebut semakin memudar, maka yang terancam bukan hanya citra Bundo Kanduang, melainkan juga keberlangsungan nilai-nilai adat dan budaya Minangkabau yang selama ini menjadi kebanggaan masyarakat Ranah Minang.


Komentar Via Facebook :