Catatan Redaksi: Ekonomi 5 Persen dan Ilusi Ketahanan

Catatan Redaksi: Ekonomi 5 Persen dan Ilusi Ketahanan

RANAHRIAU. COM- Angka itu terlihat aman. Lima persen. Tidak jatuh, tapi juga tidak melompat. Namun di balik revisi proyeksi International Monetary Fund, ada sinyal yang tak boleh diabaikan: mesin pertumbuhan mulai kehabisan bahan bakar.

Dari luar, tekanan datang berlapis. Konflik global mengganggu rantai pasok, harga bahan baku melonjak liar, bahkan plastik—komoditas yang tampak sepele ikut meroket hingga puluhan persen. Dari dalam, luka lama kembali terbuka: ketergantungan pada impor bahan baku dan rapuhnya diversifikasi industri. Fondasi yang selama ini tampak kokoh, ternyata lebih mirip lantai tipis yang menunggu retak.

Ketika bahan baku tersendat, pabrik bukan hanya melambat Ia bisa berhenti. Dan ketika produksi berhenti, yang ikut terseret bukan hanya angka pertumbuhan, tapi juga lapangan kerja, daya beli, hingga stabilitas sosial.

Di sisi lain, utang luar negeri terus menumpuk dengan wajah yang semakin sensitif terhadap gejolak global. Arus modal yang masuk ke instrumen moneter memang memberi napas, tapi juga menciptakan ketergantungan. Stabilitas menjadi rapuh, karena ia bergantung pada sentimen, bukan kekuatan riil.

Situasi makin kompleks ketika dinamika hukum dan politik tak sepenuhnya tenang. Ketegangan, pelaporan, hingga erosi kepercayaan terhadap institusi menciptakan kabut tebal bagi investor. Dalam dunia usaha, ketidakpastian bukan sekadar risiko ia adalah alasan untuk menahan diri.

Namun ekonomi Indonesia belum sepenuhnya kehilangan pijakan. Inflasi masih terkendali, cadangan devisa relatif kuat, surplus perdagangan tetap mengalir, dan konsumsi domestik masih menjadi penyangga utama. Ini bukan kondisi krisis, tapi juga bukan zona nyaman.

Di sinilah ujian sebenarnya. Apakah pemerintah hanya akan menjaga agar angka tetap terlihat “baik-baik saja”? Atau berani masuk ke ruang yang lebih sulit: melakukan koreksi struktural?

Memperkuat industri dalam negeri, mengurangi ketergantungan impor, memperbaiki kepastian kebijakan, dan yang tak kalah penting, Memulihkan kepercayaan. Tanpa itu, pertumbuhan lima persen hanya akan menjadi angka kosmetik: terlihat sehat di permukaan, tapi rapuh di dalam.

Ekonomi tidak hanya soal bertahan. Ia tentang arah. Dan saat ini, arah itu sedang dipertanyakan.

Editor : RRMedia
Komentar Via Facebook :