Tali Berpilin Tiga Dikunci jadi Komando: Elite Riau Sepakat tak Lagi Jalan Sendiri
Foto: Ist, Sumber : Net
PEKANBARU, RANAHRIAU.COM- Tidak ada lagi ruang untuk ego sektoral. Forum “Tali Berpilin Tiga” ditegaskan bukan sekadar simbol budaya, tetapi berubah menjadi komando kolektif bagi arah pembangunan Riau. Semua unsur kekuatan daerah dikunci dalam satu barisan. Pernyataan itu disampaikan tegas oleh Ketua Umum Forum Komunikasi Pemuka Masyarakat Riau, Raja Mambang Mit, usai pertemuan strategis di Pekanbaru, Minggu (12/04/2026).
“Semua pihak sepakat bersinergi dan berkolaborasi,” ujarnya, sebuah kalimat singkat yang memuat pesan keras: tidak ada lagi kerja sendiri-sendiri.
Barisan yang terlibat bukan kelas biasa. Mulai dari Gubernur Riau, Ketua DPRD, Lembaga Adat Melayu Riau, Majelis Ulama Indonesia Provinsi Riau, anggota DPR RI dan DPD RI dapil Riau, hingga seluruh kepala daerah kabupaten/kota, semua duduk dalam satu forum yang sama. Ini bukan sekadar pertemuan, tapi konsolidasi kekuatan. Pesannya jelas: Riau tidak boleh lagi tersendat karena tarik-menarik kepentingan internal.
Raja Mambang Mit menegaskan, seluruh pihak memikul tanggung jawab yang sama untuk menyikapi persoalan daerah dengan langkah konkret, bukan sekadar retorika. Tantangan yang dihadapi mulai dari tekanan fiskal hingga ketimpangan pembangunan tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan biasa. “Harus ada azam bersama dan langkah yang terukur,” tegasnya.
Namun yang lebih tajam, forum ini juga menegaskan soal harga diri daerah. Marwah Melayu tidak boleh sekadar jadi slogan, tetapi harus menjadi pijakan dalam setiap kebijakan dan arah pembangunan.
Dari tingkat pusat, komitmen juga dipaksa naik level. Anggota DPR RI dan DPD RI dapil Riau diminta tidak lagi bermain aman. Mereka dituntut lebih agresif, lebih vokal, dan lebih nyata dalam memperjuangkan kepentingan daerah. “Mereka harus proaktif dan gigih memperjuangkan hak dan keadilan untuk Riau,” kata Mambang Mit.
Targetnya tidak main-main: menarik lebih banyak program nasional masuk ke Riau dan memastikan alokasi anggaran tidak lagi timpang. Dengan kata lain, Riau ingin berhenti hanya menjadi penonton dalam distribusi pembangunan.
Forum ini juga menutup celah stagnasi dengan satu keputusan penting, pertemuan “Tali Berpilin Tiga” akan dijadikan agenda rutin. Bukan untuk seremoni, tapi sebagai ruang kontrol dan konsolidasi berkelanjutan.
Langkah ini sekaligus menjadi pesan keras: komunikasi tidak boleh putus, koordinasi tidak boleh longgar. Kini, simpul sudah dipilin. Semua kekuatan sudah duduk dalam satu lingkaran. Pertanyaannya tinggal satu, apakah komitmen ini akan benar-benar dijalankan, atau kembali larut sebagai kesepakatan di atas kertas.


Komentar Via Facebook :