Catatan Redaksi
Enam dekade BRK Syariah: Menjaga Akar, Menembus Zaman
Foto: Ist
RANAHRIAU.COM- Enam puluh tahun bukan sekadar angka. Ia adalah jejak panjang, seperti sungai yang mengalir dari hulu sederhana, menembus batu, berkelok di antara zaman, hingga menjadi arus yang menghidupi banyak harapan.
Pada 1 April 2026, BRK Syariah genap memasuki usia ke-60. Sebuah usia matang bagi lembaga yang tidak hanya bertumbuh sebagai institusi keuangan, tetapi juga sebagai penjaga nilai—mengawinkan profesionalisme dengan prinsip syariah, menautkan keuntungan dengan keberkahan.
Dalam kearifan Melayu, ada petuah lama yang berbisik tegas: “adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah.” Sebuah falsafah yang tidak hanya menjadi slogan, tetapi napas hidup masyarakat. Di titik ini, perjalanan BRK Syariah menemukan relevansinya bahwa ekonomi bukan sekadar hitung-hitungan laba, tetapi juga soal etika, keseimbangan, dan tanggung jawab moral.
Filosofi Melayu mengajarkan keseimbangan:
“tegak rumah karena sendi, teguh negeri karena budi.”
Artinya, kekuatan tidak hanya lahir dari struktur, tetapi dari akhlak. Dalam konteks perbankan, ini menjadi pengingat bahwa sebesar apa pun aset dan jaringan, tanpa integritas, semuanya bisa runtuh dalam sekejap.
Perjalanan enam dekade ini bukan tanpa ujian. Dari dinamika ekonomi, perubahan regulasi, hingga gelombang disrupsi digital yang datang seperti ombak tanpa jeda, semuanya telah ditempuh. Namun seperti pepatah Melayu, “takkan hilang Melayu di bumi,” ketahanan itu lahir dari kemampuan beradaptasi tanpa kehilangan jati diri. BRK Syariah telah menunjukkan bahwa modernitas tidak harus menanggalkan akar.
Di usia ke-60 ini, BRK Syariah bukan lagi sekadar bank daerah. Ia telah menjelma menjadi simbol kepercayaan. Tempat di mana masyarakat menitipkan bukan hanya dana, tetapi juga harapan akan sistem keuangan yang adil, transparan, dan berlandaskan nilai-nilai ilahiah.
Milad ini seharusnya menjadi titik muhasabah sekaligus loncatan. Sebab ke depan, tantangan semakin kompleks. Dunia perbankan bergerak cepat digitalisasi, inklusi keuangan, hingga kompetisi global menuntut inovasi yang bukan hanya cerdas, tapi juga berakar.
Dalam semangat Melayu, “berlayar sampai ke pulau, berjalan sampai ke batas,” BRK Syariah diharapkan tidak berhenti pada capaian hari ini. Ia harus terus melangkah, memperluas jangkauan, namun tetap menjaga arah.
Harapan ke depan bukan sekadar wacana:
BRK Syariah diharapkan menjadi pelopor transformasi digital syariah yang tetap santun dalam layanan dan kokoh dalam prinsip.
Menjadi penggerak ekonomi umat, terutama UMKM, karena dalam falsafah Melayu, “ringan sama dijinjing, berat sama dipikul,” kesejahteraan harus dibangun bersama.
Dan yang paling mendasar, menjaga amanah, sebab “hutang emas boleh dibayar, hutang budi dibawa mati.” Kepercayaan masyarakat adalah amanah yang tak ternilai.
Enam puluh tahun adalah usia kematangan. Namun bagi BRK Syariah, ini bukan penutup, melainkan pembuka. Seperti pohon yang kian tua, akarnya harus makin dalam, dahannya makin rindang, dan buahnya makin memberi manfaat.
Semoga BRK Syariah terus menjadi cahaya berpijak pada nilai Melayu, bernaung dalam syariah, dan bergerak maju menembus zaman.


Komentar Via Facebook :