Dari Beras ke Politik: Seskab Teddy bongkar Fenomena Pengamat Tanpa Akar
Foto: Ist
JAKARTA, RANAHRIAU.COM- Pernyataan tajam datang dari Teddy Indra Wijaya. Sekretaris Kabinet itu melontarkan istilah yang menggelitik sekaligus menyengat: “inflasi pengamat.” Sebuah sindiran terbuka terhadap maraknya komentar publik yang dinilai tidak berbasis kompetensi.
Menurut Teddy, fenomena ini tampak jelas dalam isu pangan. Ia mencontohkan keberadaan “pengamat beras” yang berbicara lantang, tetapi tidak memiliki latar belakang yang relevan. “Ada pengamat beras, tapi background-nya bukan di situ,” ujarnya, menyiratkan bahwa opini-opini tersebut kerap meleset dari realitas.
Lebih jauh, ia menilai sebagian pengamat tidak sekadar keliru, tetapi juga aktif membentuk persepsi publik sejak sebelum Prabowo Subianto resmi menjabat sebagai Presiden RI. Dalam pandangannya, narasi yang dibangun cenderung menggiring opini negatif terhadap kondisi nasional.
Teddy juga menepis keras isu yang menyebut Indonesia akan mengalami kekacauan dalam waktu dekat. Ia menyebut narasi tersebut tidak berdasar dan berpotensi menciptakan keresahan publik. “Itu narasi yang keliru,” tegasnya.
Pernyataan ini seperti lemparan batu ke kolam yang sudah riuh. Di satu sisi, ia membuka perdebatan tentang kredibilitas para pengamat. Di sisi lain, ia juga memantik pertanyaan lebih besar: apakah kritik publik kini dianggap sebagai gangguan, atau memang ada banjir opini tanpa pijakan yang mengaburkan fakta?
Di tengah derasnya arus informasi, publik kembali dihadapkan pada satu dilema klasik: memilah antara analisis berbasis data atau sekadar gema opini yang nyaring, tapi kosong.


Komentar Via Facebook :