Inflasi Turun, Tapi Alarm belum Dimatikan: Tito Karnavian Ingatkan Daerah Jangan Terlena
Foto: Ist, Sumber : Net
JAKARTA, RANAHRIAU.COM- Angka inflasi nasional memang melandai ke 3,48 persen. Namun di balik angka yang tampak “jinak” itu, Muhammad Tito Karnavian justru menyalakan alarm kewaspadaan bagi seluruh pemerintah daerah. Pesannya lugas, tanpa gula: jangan cepat puas.
Pernyataan itu disampaikan dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi di Kementerian Dalam Negeri, Senin (6/4/2026). Forum tersebut tak sekadar membahas angka, tetapi juga membedah potensi ancaman yang bisa sewaktu-waktu kembali mengerek harga kebutuhan masyarakat.
“Kita bersyukur karena inflasi kita terjaga… tapi jangan kita berpuas diri,” ujar Tito.
Di atas kertas, capaian inflasi di bawah 3,5 persen memang masuk target pemerintah. Namun Tito melihat ada “riak kecil” yang berpotensi menjadi gelombang jika diabaikan. Ia menyoroti bahwa stabilitas inflasi belum merata di seluruh wilayah Indonesia.
Lebih dari itu, ia mengingatkan agar kepala daerah tidak terjebak pada angka tahunan (year on year) yang kerap terasa “menenangkan”, tetapi mulai fokus membaca denyut inflasi bulanan (month to month) yang jauh lebih jujur dalam menggambarkan kondisi terkini.
“Yang lebih utama itu month to month,” tegasnya.
Dalam paparannya, Tito bahkan menyebut sejumlah daerah yang masuk radar tekanan inflasi bulanan. Wilayah seperti Papua Pegunungan, Papua Barat Daya, NTB, Kaltim, Papua, Sulawesi Selatan, Jawa Tengah, Kalimantan Utara, hingga Bali diminta tidak diam. Instruksinya jelas: segera bergerak.
Langkah konkret yang diminta bukan sekadar rapat formalitas. Kepala daerah didorong mengaktifkan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID), memperkuat koordinasi dengan distributor, hingga memastikan tidak ada praktik penimbunan yang memperparah situasi.
Tito juga mengurai tiga “biang kerok” klasik inflasi: pasokan yang tersendat, lonjakan permintaan, dan distribusi yang tersumbat. Kombinasi ketiganya, jika tak ditangani cepat, bisa menjelma menjadi tekanan harga yang menghantam daya beli masyarakat.
Sorotan tajam juga diarahkan pada komoditas pangan strategis. Daging ayam ras dan telur ayam ras, dua “denyut nadi” dapur rumah tangga, masih menunjukkan harga yang relatif tinggi di banyak daerah meski mulai turun.
Data yang disampaikan menunjukkan, harga daging ayam masih tinggi di 148 daerah, sementara telur ayam ras masih naik di 145 daerah. Angka ini menjadi sinyal bahwa stabilitas harga belum sepenuhnya merata.
Di tengah narasi optimisme inflasi yang terkendali, pesan Mendagri terasa seperti rem darurat: jangan sampai euforia angka meninabobokan kewaspadaan. Sebab dalam ekonomi, seperti cuaca tropis, langit cerah hari ini bukan jaminan bebas badai esok hari.


Komentar Via Facebook :