Harga Minyak Naik, Sekolah Nyaris Daring Lagi: Pemerintah Akhirnya Rem Wacana

Harga Minyak Naik, Sekolah Nyaris Daring Lagi: Pemerintah Akhirnya Rem Wacana

Foto: Ist

JAKARTA, RANAHRIAU.COM– Kenaikan harga minyak mentah dunia akibat tensi panas di Timur Tengah sempat menyeret satu wacana sensitif: sekolah kembali daring demi menghemat BBM dan anggaran negara.

Namun sebelum kebijakan itu benar-benar “mengudara”, pemerintah memilih menarik rem.
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno, memastikan bahwa kegiatan belajar mengajar tetap berjalan normal secara tatap muka.

“Pembelajaran tetap seperti biasa,” tegasnya usai melakukan koordinasi lintas kementerian.

Wacana Hemat Energi Nyaris Sentuh Dunia Pendidikan
Gelombang kenaikan harga minyak global membuat pemerintah mulai menghitung ulang berbagai pos pengeluaran, termasuk konsumsi energi. Salah satu opsi yang sempat mengemuka adalah mengurangi mobilitas pelajar melalui pembelajaran daring.

Logikanya sederhana, jika siswa belajar dari rumah, konsumsi BBM untuk transportasi bisa ditekan. Tapi realitas pendidikan tak sesederhana rumus hemat energi.

Pertimbangan Akademik Jadi Rem Utama
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, menjelaskan bahwa keputusan membatalkan wacana daring bukan tanpa alasan. Menurutnya, ada dua hal krusial yang jadi pertimbangan:

Kualitas pembelajaran akademik
Penguatan pendidikan karakter di sekolah
“Pembelajaran tatap muka masih menjadi pilihan terbaik, terutama dalam membangun karakter siswa,” ujarnya.

Pernyataan ini sekaligus menjadi sinyal bahwa pengalaman panjang selama pandemi telah memberi pelajaran: daring bukan solusi ideal untuk semua kondisi.

Efisiensi vs Masa Depan Generasi
Di satu sisi, negara dituntut berhemat di tengah tekanan global. Di sisi lain, dunia pendidikan tidak bisa terus-menerus dijadikan “katup pengaman” kebijakan ekonomi.

Wacana ini pun memantik diskusi lebih luas:
apakah efisiensi anggaran boleh menyentuh sektor pendidikan dasar?

Bagi sebagian kalangan, langkah mengembalikan sekolah ke daring berisiko mengulang masalah lama: kesenjangan akses, penurunan kualitas belajar, hingga lemahnya interaksi sosial siswa.

Sinyal Tegas: Pendidikan Bukan Korban Kebijakan
Keputusan pemerintah mempertahankan pembelajaran tatap muka menjadi pesan penting:
pendidikan tidak boleh menjadi korban pertama saat krisis datang.

Meski ancaman kenaikan harga energi masih membayangi, setidaknya untuk saat ini, ruang kelas tetap hidup, papan tulis tetap terisi, dan suara guru masih menggema di sekolah.

Dan mungkin, di tengah gejolak global, itu adalah bentuk stabilitas yang paling sederhana namun paling penting.

Editor : RRMedia
Komentar Via Facebook :