Milad ke-62 IMM: Apakah Kita Masih Berani Mengkritik, Termasuk Mengkritik Rumah Sendiri?
Foto: Ist
RANAHRIAU.COM- Milad ke-62 Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) seharusnya bukan sekadar seremoni. Ia bukan hanya tentang potong tumpeng, pidato-pidato seremonial, atau unggahan ucapan selamat di media sosial.
Milad adalah momentum bercermin. Sebuah waktu untuk bertanya dengan jujur: di mana posisi IMM hari ini?
Organisasi yang lahir pada 14 Maret 1964 ini dibangun di atas tiga fondasi besar: religiusitas, intelektualitas, dan humanitas. Tiga pilar yang menjadi identitas sekaligus pembeda IMM dengan organisasi mahasiswa lainnya.
Namun setelah 62 tahun berjalan, pertanyaan kritis mulai mengemuka:
apakah tiga nilai itu masih menjadi ruh gerakan, atau hanya slogan yang diulang setiap milad?
IMM: Pabrik Kader Intelektual atau Sekadar Organisasi Seremonial?
Sejak awal berdiri, IMM diproyeksikan sebagai dapur kader intelektual Muhammadiyah. Ia bukan hanya organisasi mahasiswa biasa, tetapi ruang pembentukan pemikir, aktivis, dan pemimpin masa depan umat.
Dari rahim IMM lahir banyak tokoh. Akademisi, politisi, aktivis sosial, hingga pemimpin lembaga.
Tetapi realitas hari ini juga menghadirkan kegelisahan. Di banyak tempat, aktivitas IMM mulai terjebak dalam rutinitas seremonial.
Diskursus intelektual yang dahulu menjadi ciri khas perlahan berkurang. Mimbar akademik tidak lagi seramai dulu.
Padahal mahasiswa seharusnya menjadi penjaga nalar kritis di tengah masyarakat.
Jika IMM kehilangan tradisi intelektualnya, maka yang hilang bukan hanya identitas organisasi, tetapi juga masa depan kaderisasi itu sendiri.
Kaderisasi yang Tidak Boleh Mandek
IMM selama ini dikenal dengan proses kaderisasi yang kuat. Dari Darul Arqam Dasar, Darul Arqam Madya hingga berbagai forum intelektual yang membentuk karakter kader.
Namun kaderisasi tidak boleh berhenti pada proses formal. Ia harus berlanjut pada ruang pengabdian nyata.
Banyak kader IMM hari ini merasakan kegelisahan: setelah berproses panjang dalam organisasi, ruang kontribusi dalam amal usaha Muhammadiyah tidak selalu terbuka. Padahal IMM adalah salah satu pemasok kader terbesar bagi persyarikatan.
Jika kader yang ditempa dengan idealisme tidak mendapatkan ruang pengabdian, maka militansi kader akan menghadapi ujian serius.
Tantangan Zaman yang Semakin Kompleks
Di usia 62 tahun, IMM menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks dibanding masa kelahirannya.
Era digital mengubah cara berpikir generasi muda. Arus informasi bergerak cepat. Ideologi berseliweran tanpa batas.
Dalam situasi ini, IMM tidak cukup hanya menjadi organisasi kader biasa. Ia harus menjadi ruang produksi gagasan.
Mahasiswa Muhammadiyah harus kembali menjadi kelompok yang berani berpikir kritis, berani menyuarakan kebenaran, dan berani mengoreksi keadaan ketika ada yang melenceng dari nilai keadilan. IMM tidak boleh kehilangan keberanian intelektualnya.
Milad ke-62: Saatnya Menyalakan Kembali Api Perjuangan
Usia 62 tahun adalah usia kematangan bagi sebuah organisasi. Ini bukan lagi fase mencari jati diri, tetapi fase memperkuat peran dalam membangun peradaban.
IMM harus kembali menegaskan posisinya sebagai gerakan mahasiswa yang kritis, progresif, dan berakar pada nilai-nilai Islam berkemajuan.
Milad ke-62 harus menjadi pengingat bahwa IMM tidak dilahirkan untuk menjadi organisasi yang nyaman dengan rutinitas.
Ia dilahirkan untuk menjadi api yang menyalakan perubahan. Karena pada akhirnya, sejarah tidak akan mencatat berapa banyak seremoni milad yang pernah dibuat.
Sejarah hanya akan mengingat satu hal:
apakah IMM tetap menjadi rumah lahirnya kader-kader intelektual yang berani memperjuangkan perubahan.
Penulis : Abdul Hafidz AR S. IP, Pimred ranahriau.com, Angkatan Muda Muhammadiyah Riau


Komentar Via Facebook :