Ketika Talkshow Kehilangan Etika, Catatan Redaksi

Ketika Talkshow Kehilangan Etika, Catatan Redaksi

Foto: Ist, Sumber : Net

RANAHRIAU.COM- Insiden yang melibatkan Permadi Arya alias Abu Janda dalam program Rakyat Bersuara seharusnya menjadi alarm serius bagi media massa berbasis penyiaran, khususnya televisi. Peristiwa itu bukan sekadar keributan dalam sebuah acara diskusi, melainkan cermin dari persoalan yang lebih mendasar: cara media memilih narasumber dan mengelola ruang publik yang mereka miliki.

Televisi bukanlah sekadar panggung hiburan. Ia menggunakan frekuensi publik, ruang milik masyarakat yang diamanahkan negara kepada lembaga penyiaran untuk dikelola secara bertanggung jawab. Karena itu, standar yang berlaku di dalamnya tidak boleh disamakan dengan ruang bebas di media sosial.

Namun belakangan, sejumlah program talkshow televisi justru tampak terjebak pada logika rating dan sensasi. Yang dikejar bukan lagi kualitas diskusi, melainkan drama, emosi, dan kegaduhan. Narasumber dipilih bukan semata karena kapasitas intelektual atau kompetensinya, tetapi karena potensi kontroversi yang bisa memancing perhatian publik.

Akibatnya, tidak jarang kita menyaksikan diskusi yang tidak sepadan. Ada akademisi atau pakar yang hadir dengan argumentasi berbasis data dan analisis, namun dipertemukan dengan figur yang lebih dikenal karena provokasi dan gaya komunikasi yang kasar. Ketimpangan ini bukan hanya membuat diskusi kehilangan kualitas, tetapi juga membuka peluang terjadinya konflik verbal yang tidak pantas ditampilkan di ruang publik.

Kasus Abu Janda memperlihatkan bagaimana longgarnya filter terhadap rekam jejak sikap dan etika sosial narasumber bisa berujung pada insiden yang merusak marwah forum diskusi. Ketika kata-kata kasar muncul di layar televisi, yang tercoreng bukan hanya narasumber, tetapi juga kredibilitas media yang menayangkannya.

Padahal kaidah jurnalistik sudah sangat jelas: media massa memiliki tanggung jawab untuk menjaga etika, kepantasan, dan kualitas informasi yang disampaikan kepada publik. Televisi bukan ruang bebas tanpa batas.

Jika ada kebutuhan untuk membuat konten yang penuh sensasi, adu emosi, atau “akrobat” debat yang liar, ruang yang lebih tepat sebenarnya adalah platform media sosial, yang secara karakter memang bersifat privat dan bebas. Di sana, risiko dan tanggung jawab berada pada masing-masing individu.

Tetapi televisi berbeda. Ia memegang mandat publik.

Karena itu, insiden ini seharusnya menjadi momentum bagi industri penyiaran untuk melakukan evaluasi serius terhadap format talkshow, mekanisme kurasi narasumber, serta standar etika yang diterapkan dalam program siaran langsung.

Sebab ketika televisi mulai lebih mengejar kegaduhan daripada kualitas diskusi, yang sebenarnya sedang dipertaruhkan bukan sekadar rating acara melainkan kepercayaan publik terhadap media itu sendiri.

Editor : RRMedia
Komentar Via Facebook :