Defisit APBN Meledak 342 Persen, Menkeu Purbaya sebut Ini Strategi Baru Belanja Negara

Defisit APBN Meledak 342 Persen, Menkeu Purbaya sebut Ini Strategi Baru Belanja Negara

Foto: Ist, Sumber : Net

JAKARTA, RANAHRIAU.COM- Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada awal 2026 melonjak tajam. Hingga Februari 2026, defisit tercatat mencapai Rp135,7 triliun, naik drastis 342,4 persen dibanding periode yang sama tahun lalu yang hanya sebesar Rp30,7 triliun.

Namun Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menegaskan lonjakan defisit tersebut bukan tanda memburuknya kondisi fiskal, melainkan dampak dari perubahan pola pengeluaran pemerintah.

Menurutnya, pemerintah kini menerapkan strategi baru dalam pengelolaan belanja negara, yakni meratakan porsi pengeluaran sepanjang tahun, tidak lagi menumpuk di akhir tahun anggaran seperti pola yang lazim dilakukan sebelumnya.

“Pemerintah memang sedang memaksakan pola kerja baru, belanja negara tidak lagi menumpuk di akhir tahun, tetapi diratakan setiap bulan,” kata Purbaya.

Pemerintah Klaim Daya Beli Meningkat

Di tengah lonjakan defisit, pemerintah justru mengklaim kondisi ekonomi masyarakat menunjukkan tren positif.

Sejumlah indikator ekonomi disebut mengalami peningkatan, di antaranya:

Mandiri Spending Index (MSI) naik ke level 360,7 pada Februari 2026

  • Penjualan mobil tumbuh 12,2%
  • Penjualan motor tumbuh 1%
  • Indeks Penjualan Ritel meningkat 6,9%
  • Indeks Keyakinan Konsumen berada di level optimistis 125,2
  • Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur tercatat 53,8, menunjukkan ekspansi sektor industri

Angka-angka tersebut disebut pemerintah sebagai indikator bahwa daya beli masyarakat mulai menguat.

Penerimaan Pajak Melonjak

Sementara itu, Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyebut penerimaan pajak juga mengalami peningkatan signifikan. Hingga Februari 2026, penerimaan pajak mencapai Rp245,1 triliun, tumbuh 30,4 persen secara tahunan (year on year). Menurut Suahasil, lonjakan tersebut dipicu oleh meningkatnya aktivitas ekonomi masyarakat.

Jenis pajak yang mencatat pertumbuhan paling tinggi antara lain:

  • PPN dan PPnBM tumbuh 97,4% menjadi Rp85,9 triliun
  • PPh Badan tumbuh 4,4% menjadi Rp23,7 triliun
  • PPh Orang Pribadi dan PPh 21 naik 3,4% menjadi Rp29 triliun
  • PPh Final, PPh 22, dan PPh 26 tumbuh 4,4% menjadi Rp52,2 triliun

Pemerintah menilai kenaikan penerimaan pajak yang cukup merata tersebut mencerminkan aktivitas ekonomi yang mulai bergerak lebih kuat di berbagai sektor.

Meski demikian, lonjakan defisit di awal tahun tetap menjadi perhatian sejumlah ekonom, terutama terkait konsistensi pemerintah menjaga disiplin fiskal sepanjang tahun anggaran 2026.

Editor : RRMedia
Komentar Via Facebook :