Dari Saf Anak Mengaji ke Kursi Menteri: Raja Juli Antoni Pulang ke Masjid Masa Kecilnya
Foto: Ist
PEKANBARU, RANAHRIAU.COM- Malam itu, Masjid Al-Fida Muhammadiyah, Kota Pekanbaru, tak sekadar menjadi tempat ibadah Ramadhan. Ia berubah menjadi ruang kenangan.
Di saf depan, berdiri seorang menteri negara yang dulu pernah duduk bersila sebagai bocah kecil, mengeja huruf demi huruf Al-Qur’an di lantai yang sama: Raja Juli Antoni.
Tak ada protokoler berlebihan. Tak ada jarak yang kaku. Raja Juli Antoni datang, berwudhu, lalu berdiri sejajar dengan jamaah lainnya untuk menunaikan sholat Isya berjemaah.
Ia melanjutkan dengan taushiyah Ramadhan, lalu Tarawih dan Witir menyatu dalam barisan, sebagaimana dulu ia belajar menjadi makmum yang khusyuk.
Dalam taushiyahnya, ia berbicara tentang amanah menjaga bumi. Tentang bagaimana Islam telah lama mengajarkan cinta lingkungan, bahkan dalam situasi perang sekalipun melarang penebangan pohon.

Namun malam itu, pesan tentang lingkungan terasa lebih dalam dari sekadar kebijakan. Ia seperti sedang merangkai ulang memori masa kecilnya dengan tanggung jawab yang kini dipikulnya sebagai Menteri Kehutanan.
“Islam sangat mengerti dan konsisten dalam menjaga lingkungan. Bahkan dalam kondisi perang sekalipun, dilarang untuk menebang pohon,” ucapnya pelan, namun tegas.
Masjid Al-Fida bukan sekadar bangunan baginya. Di sinilah ia pertama kali mengenal huruf hijaiyah. Di sinilah ia ditegur ketika salah tajwid. Di sinilah ia, sebagai anak kecil, belajar tentang benar dan salah.
“Ada banyak kenangan masa kecil saya di sini. Di sinilah tempat saya belajar Al-Qur’an,” katanya, suaranya menghangat, seolah waktu berputar mundur.
Beberapa jamaah yang lebih tua terlihat tersenyum haru. Mereka menyaksikan sendiri perjalanan seorang anak masjid yang kini menjadi pejabat negara. Bukan karena kekuasaan yang dibanggakan, tetapi karena akarnya tak tercerabut.

Bendahara Masjid Al-Fida Muhammadiyah, Admiril, menyebutnya sebagai putra terbaik yang tumbuh dari rahim masjid.
“Kita semua sangat senang dan bangga. Beliau dibesarkan di sini, belajar di sini, dan hari ini kembali sebagai orang penting di negeri ini. Terima kasih atas bantuannya, Pak Menteri,” ujarnya.
Usai Witir, suasana berubah menjadi lebih cair. Anak-anak Taman Bacaan Al-Qur’an mendekat, sebagian malu-malu, sebagian penuh semangat.
Ia melayani foto bersama, menyalami satu per satu jamaah, berbincang dengan teman-teman masa kecilnya. Tak ada sekat jabatan, yang ada hanya kehangatan.
Ramadhan malam itu mengajarkan satu hal sederhana namun dalam: setinggi apa pun seseorang melangkah, selalu ada tempat yang menjadi awal pijakan. Masjid kecil tempat ia dulu belajar mengeja, kini menjadi saksi bahwa doa-doa masa kecil tak pernah sia-sia.
Di Masjid Al-Fida, Raja Juli Antoni tak sekadar pulang. Ia mengingatkan bahwa keberhasilan sejati bukan hanya soal posisi, tetapi tentang tetap setia pada akar pada sajadah lama yang pernah menjadi saksi air mata dan harapan.


Komentar Via Facebook :