Catatan atas Kasus Pembacokan Mahasiswi UIN Suska Riau: Ketika Relasi Personal Berubah jadi Tragedi

Catatan atas Kasus Pembacokan Mahasiswi UIN Suska Riau: Ketika Relasi Personal Berubah jadi Tragedi

RANAHRIAU.COM- Kasus pembacokan terhadap mahasiswi UIN Suska Riau menyisakan duka sekaligus refleksi mendalam bagi publik, khususnya lingkungan kampus. Peristiwa yang awalnya dipahami sebagai tindak kekerasan spontan, ternyata menyimpan latar relasi personal yang kompleks.

“Plot twist” dalam kasus ini terletak pada motifnya. Dugaan awal publik mengarah pada tindak kriminal biasa. Namun fakta yang berkembang menunjukkan bahwa pelaku dan korban sebelumnya saling mengenal, bahkan berinteraksi dalam kegiatan akademik seperti Kuliah Kerja Nyata (KKN). Relasi yang semula tampak wajar itu kemudian berubah menjadi ketertarikan sepihak yang tidak terbalas.

Di sinilah persoalan menjadi serius. Ketika ketertarikan tidak dikelola secara dewasa, ia bisa berubah menjadi obsesi. Ketika penolakan tidak diterima dengan lapang, ia bisa menjelma menjadi kemarahan. Dan ketika emosi tidak dikendalikan, tragedi bisa terjadi.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa kekerasan sering kali tidak lahir dari ruang kosong. Ia tumbuh dari relasi yang tidak sehat, dari ketidakmampuan mengelola emosi, dan dari pemahaman yang keliru tentang hak atas perasaan orang lain.

Lingkungan kampus sebagai ruang intelektual seharusnya menjadi tempat tumbuhnya kedewasaan berpikir dan bersikap. Namun peristiwa ini menunjukkan bahwa literasi emosional dan kesehatan mental masih menjadi pekerjaan rumah bersama.

Catatan ini bukan untuk menghakimi, melainkan untuk mengingatkan:

  1. Bahwa tidak ada yang berhak memaksakan perasaan kepada orang lain.
  2. Bahwa penolakan adalah bagian dari dinamika relasi yang harus diterima dengan matang.
  3. Bahwa kampus perlu memperkuat sistem pencegahan kekerasan, konseling psikologis, dan edukasi relasi sehat.

Tragedi ini adalah luka. Namun dari luka, selalu ada pelajaran. Semoga kasus ini menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran tentang pentingnya kesehatan mental, kedewasaan emosional, dan perlindungan terhadap perempuan di ruang-ruang pendidikan.

Karena pada akhirnya, pendidikan bukan hanya soal kecerdasan intelektual, tetapi juga kematangan karakter.

 

Penulis : Abdul Hafidz AR, S. IP,  Pimred ranahriau.com.

Editor : RRMedia
Komentar Via Facebook :